Belajar di ruang darurat, setelah lima bulan gempa Lombok berlalu

Beberapa sekolah di Kabupaten Lombok Utara masih menggelar aktivitas belajar di bangunan darurat, ‘puskesmas sementara’ beroperasi dengan fasilitas seadanya sejak gempa melanda pada Juli 2018 lalu

Belajar di ruang darurat, setelah lima bulan gempa Lombok berlalu

LOMBOK 

Enam bulan berlalu sejak gempa melanda Lombok, sekitar 200 siswa-siswi SDN 1 Tanjung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat masih belajar di ruang kelas darurat.

Aktivitas belajar siswa-siswi SDN 1 Tanjung nampak jelas dari jalan raya karena berlokasi di halaman depan sekolah yang rusak berat.

Ruang kelas darurat itu tidak berdinding, hanya berupa tiang-tiang penyangga, atap bermaterial seng, serta meja dan kursi dari ruang kelas lama mereka.

Sherina Aprilia Kurniawan, 11, ketika ditemui di SDN 1 Tanjung mengeluh bahwa konsentrasi belajarnya kerap terganggu karena panas pada siang hari atau rembesan air ketika hujan tiba.

“Dulu lebih bisa fokus belajar. Sekarang berisik karena dekat jalan raya, jadi bising,” kata Sherina, Selasa.

"Lebih enak kelas yang dulu, enggak panas," tambah dia.

Kondisi ini telah berjalan selama lima bulan, sebab sekolah baru dimulai satu bulan setelah gempa terjadi.

Delapan ruang kelas di SDN 1 Tanjung rusak berat dan tidak lagi beratap, dinding-dindingnya telah roboh sebagian akibat guncangan gempa.

Hanya tiga ruang kelas peninggalan Belanda yang masih dalam kondisi utuh, namun tetap tidak digunakan untuk proses belajar.

“Karena bangunan tembok jadi orang tua murid khawatir kalau anak-anak belajar di dalam ruangan,” kata Guru SDN 1 Tanjung, Nur Aini.

Mereka akhirnya menggunakan ruangan itu sebagai kantor guru, namun para guru lebih merasa aman dan nyaman jika duduk di teras bangunan dibanding di dalam ruangan.

Sebagian ruang kelas darurat milik SDN 1 Tanjung juga berdiri di sebuah lahan pasar, sekitar 100 meter dari lokasi sekolah.

Siswa-siswi SDN 1 Tanjung sementara ini masih harus bersabar belajar di ruang kelas darurat hingga sekolah mereka diperbaiki.

Padahal, sejumlah sekolah lain di Kabupaten Lombok Utara telah memiliki bangunan semipermanen bermaterial triplek sambil menunggu gedung sekolah baru dibangun atau diperbaiki.

Sekolah semipermanen tersebut dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kepala Sekolah SDN 1 Tanjung, Marto mengatakan tidak lagi berharap akan ada bangunan semipermanen untuk siswa-siswinya.

Sebelumnya rencana mendirikan bangunan semipermanen sempat dibahas dengan pihak sekolah, namun rencana itu dibatalkan karena terbatasnya lahan milik sekolah.

Marto sempat mengajukan izin untuk membangun sekolah semipermanen di lahan milik pasar yang kini juga ditempati sebagian siswa-siswinya untuk sekolah, namun usulan itu juga tidak terlaksana.

“Sekarang menunggu yang permanen saja, dijanjikan tahun ajaran ini tapi belum ada kabar lagi,” kata Marto.

Nasib sama juga dialami murid-murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Galuh Anjani di Gangga, Lombok Utara.

Hingga Selasa siang, mereka masih menggelar aktivitas belajar di tenda darurat tepat di depan bangunan lama PAUD yang rusak.

Bangunan itu tidak lagi bisa digunakan karena atap dan sebagian dindingnya telah rubuh.

Pengajar PAUD Galuh Anjani, Satminten, 31 mengaku sudah mengusulkan perbaikan kepada pemerintah daerah namun belum menerima respons.

“Karena kalau hujan, air juga menggenang di tenda sampai anak-anak harus mengangkat kaki saat duduk,” ujar dia.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB Muhammad Suruji mengatakan sekolah-sekolah yang masuk kategori rusak berat akan dibangun pada tahun ini oleh Kementerian PUPR.

Dia mengakui tidak seluruh sekolah yang rusak telah mendapat fasilitas bangunan semipermanen.

Bangunan semipermanen itu, kata dia, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah.

“Jangan sampai sudah dibangunkan semipermanen yang bagus, tapi enggak lama dibongkar karena mau membangun yang baru,” kata Suruji.

Fasilitas kesehatan seadanya

Sudah satu jam Nuritem, 60, terbaring lemas di atas kursi pengunjung di lorong puskesmas sementara, Kecamatan Gangga, Lombok Utara pada Selasa siang.

Menantu Nuritem, M Syafii mengatakan ibu mertuanya itu demam dan mencret sejak Senin malam lalu.

Kondisi Nuritem terlalu lemah untuk duduk, sedangkan kasur pasien di puskesmas sementara saat itu penuh.

“Sudah satu jam berbaring di kursi, karena tidak kuat duduk sementara kasurnya tidak ada yang kosong,” kata Syafii.

Puskesmas sementara ini dibangun berdinding tripleks, beratap seng, dan berlantai semen oleh Kementerian PUPR sambil menunggu bangunan puskesmas lama diperbaiki.

Kepala Puskesmas Gangga Nusril mengatakan kapasitas dan pelayanan di puskesmas sementara tidak memenuhi standar.

“Tapi mau bagaimana lagi namanya juga bencana, kami sedang menunggu bangunan lama diperbaiki, selesai dua bulan lagi,” kata dia ketika ditemui, Selasa.

Puskesmas sementara ini memiliki ruang unit gawat darurat (UGD) dengan kapasitas dua pasien, ruang bersalin berkapasitas tiga pasien, ruang rawat inap bagi laki-laki dan perempuan berkapasitas masing-masing tiga pasien, serta sejumlah poli perawatan.

Ruangan rawat inap pun berfasilitas seadanya, dimana kasur pasien berjarak hanya satu meter dengan pasien lain.

Nusril mengatakan Puskesmas Gangga akhirnya sering merujuk pasien yang datang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) terdekat.

Puskesmas Gangga melayani sekitar 100 pasien rawat jalan dan rawat inap per hari meski beroperasi di bangunan permanen.

Salah satu perawat di UGD Puskesmas Gangga, Husni Abadi mengatakan kapasitas dua pasien untuk UGD tidak mencukupi.

Puskesmas Gangga dulunya memiliki kapasitas UGD untuk empat hingga lima pasien, belum termasuk ruang penanganan khusus untuk pasien UGD.

“Pernah kejadian ada pasien kecelakaan saat UGD penuh akhirnya kami menangani pasien itu di mobil,” kata dia,” ujar Husni.

Lombok kini berada dalam masa pemulihan usai gempa pada Juli 2018 lalu.

Sejumlah fasilitas pelayanan umum seperti sekolah, puskesmas, kantor-kantor pemerintahan di sejumlah kecamatan di Lombok Utara belum pulih sepenuhnya sejak gempa terjadi pada Juli 2018 lalu.

Gempa tersebut mengakibatkan 572 orang meninggal dunia, 2.012 orang luka- luka, 483.364 orang mengungsi dan terdampak, serta 16.520 unit rumah rusak.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA