Baru dilantik, Kepala BNPB fokus pada pemetaan dan mitigasi bencana

BNPB akan berkoordinasi dengan pakar untuk memastikan potensi bencana di berbagai daerah menemukan mitigasi yang tepat, kata Kepala BNPB yang baru dilantik

Baru dilantik, Kepala BNPB fokus pada pemetaan dan mitigasi bencana

JAKARTA 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan akan fokus pada pemetaan dan mitigasi yang tepat terkait risiko bencana di seluruh wilayah Indonesia pada tahun ini.

“Kami akan berkoordinasi dengan para pakar untuk memastikan potensi bencana di berbagai daerah menemukan mitigasi yang tepat,” ujar Kepala BNPB yang baru dilantik, Letnan Jenderal TNI Doni Munardo usai serah terima jabatan di Kantor BNPB, Jakarta, Rabu.

BNPB, kata dia, akan meningkatkan pelatihan sadar bencana kepada masyarakat hingga ke tingkat RW.

Mantan Kepala BNPB Willem Rampangilei, dalam kesempatan yang sama, berpesan agar BNPB memperkuat pengurangan risiko bencana.

"Jadi bisnis utama kita itu pengurangan risiko bencana dilakukan secara efektif sehingga apabila terjadi ancaman bencana maka dampaknya seminim mungkin," kata Willem.

Menurut dia, pemerintah banyak belajar dari bencana yang terjadi pada 2018 lalu.

Dia mencontohkan kejadian tsunami di Pandeglang dan Lampung yang terjadi tanpa didahului gempa, serta gempa bumi di Nusa Tenggara Barat yang terjadi berturut-turut.

Secara struktural, Willem menilai pemerintah perlu memperbaiki infrastruktur pengurangan risiko bencana seperti forestasi dan normalisasi sungai.

Secara non-struktural, dia mengatakan pemerintah perlu memasukkan pendidikan bencana ke dalam kurikulum sekolah untuk meningkatkan kesadaran bencana masyarakat.

Penanganan bencana juga perlu terintegrasi di seluruh lembaga pemerintah, lanjut dia.

Saat ini ada 32 kementerian dan lembaga yang memiliki program kerja pengurangan risiko bencana terpadu.

Program kerja tersebut mengacu pada Rencana Induk Penanganan Bencana 2015-2045 yang dikerjakan bersama Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas).

Selain itu, BNPB juga akan mendirikan politeknik penanggulangan bencana pada 2019 ini, lanjut dia.

“Karena faktor yang penting dari pengurangan risiko bencana adalah kualitas sumber daya manusia,” tutur Willem.

BNPB mencatat sekitar 60 juta penduduk Indonesia tinggal di kawasan rawan banjir, 40 juta penduduk di kawasan rawan longsor, 3,5 juta penduduk di kawasan rawan erupsi gunung berapi, dan 5,4 juta penduduk di kawasan rawan tsunami.

Willem menyebut tren bencana juga terus meningkat.

BNPB mencatat ada 2.572 kali kejadian bencana selama 2018.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA