AJI sebut perempuan pekerja media masih alami diskriminasi

Liputan menantang lebih banyak diberikan untuk jurnalis laki-laki

AJI sebut perempuan pekerja media masih alami diskriminasi

JAKARTA

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengungkapkan bahwa perempuan yang bekerja di media masih mengalami diskriminasi.

Salah satu bentuk diskriminasi itu, ujar Staf Divisi Perempuan AJI Indonesia Nani Afrida, adalah prioritas penempatan jurnalis laki-laki untuk liputan menantang.

“Liputan seksi dan menantang sering diberikan untuk laki-laki, sedang jurnalis perempuan umumnya ditempatkan di desk kesehatan atau gaya hidup,” ujar Nani, Rabu, di Jakarta.

Begitu pula, lanjut Nani, pos-pos penting yang dianggap ‘maskulin’ seperti pertahanan atau kepolisian, mayoritas ditempatkan oleh jurnalis laki-laki.

Kalaupun ada jurnalis perempuan ditempatkan di pos itu, imbuh Nani, hanya ada segelintir.

Bentuk diskriminasi lainnya, kata Nani, adalah pengambilan keputusan di newsroom umumnya didominasi laki-laki.

Riset AJI Indonesia pada 2012 menyimpulkan hanya satu dari 189 jurnalis perempuan yang menempati posisi editor di media.

“Padahal kalau perempuan dapat posisi bagus di media, dia bisa menempatkan agenda setting dengan baik,” ujar Nani.

Nani juga menyoroti minimnya fasilitas yang diberikan untuk jurnalis perempuan, seperti kesehatan reproduksi, insentif dan asuransi.

Banyak juga perempuan yang mengalami pelecehan seksual saat meliput, ujar Nani. Seperti digoda, diajak kencan, atau kontak fisik.

Survey yang dilakukan oleh International Federation Journalist (IFJ) mengungkapkan bahwa 66 persen jurnalis perempuan di dunia mengalami pelecehan.

Dari jumlah itu, hanya 13 persennya yang berhasil dibawa ke pengadilan.

“Setiap tahun, ada jurnalis perempuan yang dibunuh, diserang, diancam, dipenjarakan, dilecehkan, bukan karena pekerjaan mereka, tapi karena diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan,” kata Nani.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA