Sentimen Eropa Kubur Bintang Afrika

Meski berjalan tidak beriringan, namun sepak bola dan politik tak pernah bisa dipisahkan. Paling keji memang terjadi saat Italia merebut gelar juara Piala Dunia 1938. Ketika itu, sang pemimpin mereka Benito Musollini menebar ancaman pada para pem

Sentimen Eropa Kubur Bintang Afrika

Oleh : Erwin Kusumah FOKUSJabar.com : Meski berjalan tidak beriringan, namun sepak bola dan politik tak pernah  bisa dipisahkan. Paling keji memang terjadi  saat  Italia merebut  gelar juara Piala Dunia 1938. Ketika itu, sang pemimpin mereka Benito Musollini menebar ancaman pada para pemain,  tiang gantung menjadi harga yang pantas jika mereka gagal juara. [caption id="attachment_86887" align="aligncenter" width="475"] Aljazair Kejutkan Dunia Sepakbola Dengan Mengalahkan Jerman (sumber: Goal.com)[/caption] Walaupun  tidak sekeji itu, namun politik lain dalam  sepak  bola selalu melahirkan kepedihan. Bahkan bisa dibilang turut mengubur sinar  kebintangan  dari  individu, atau  negara. Kenyataan  itu terjadi  di Piala Dunia 1982 di Spanyol, atau yang lebih  dikenal dengan sebutan Espana ’82. Bumbu  politik tersebut, ada di Grup 2 yang dihuni Jerman  Barat, Austria, Aljazair dan Cile. Lebih mengerikan lagi, campur  tangan politik  tersebut dilakukan dua tim Eropa, Jerman Barat dan  Austria untuk menghentikan langkah Aljazair sebagai wakil Afrika. Jerman Barat merasa harus menyingkirkan Aljazair, lantaran  telah mempermalukannya di pertandingan pembuka dengan kekalahan  1-2. Dua  gol bintang Aljazair kala itu, Rabah Madjer di  menit  ke-54 dan  83, serta satu gol Lakhdar Belloumi pada  menit  68, hanya berbalas satu gol Karl-Heinz Rummenige di menit ke-67. Kekalahan tersebut menjadi  kejutan  terbesar Espana  ’82. Bahkan  secara individu,  kebintangan Madjer diprediksi akan terus benderang  di Negeri Matador jika Aljazair bisa melewati babak penyisihan grup. Setelah  kekalahan di laga pertama, Jerman Barat kembali ke permainan terbaiknya.Rentetan kemenangan bisa direbut dengan mengalahkan Cile, 4-1 lewat hattrick, Rummenigge menit ke-9, 57 dan 66 serta satu gol sumbangan Uwe Reinders di menit ke-81. Cile hanya bisa membalas gol melalui Gustavo Moscoso. Kemenangan atas Cile membuat peluang Jerman Barat lolos dari grup kembali terbuka. Poin dua yang dikumpulkannya (saat itu kemenangan berbuah nilai 2,red) berada di peringkat tiga klasemen sementara. Sementara Aljazair berada di peringkat dua dengan nilai 4, setelah  dilaga  ketiga menang atas Cile 3-2 dan  selisih  gol  5 memasukan dan 5 kemasukan. Satu  kontestan  lainnya, Austria sudah  lebih  dulu  mengamankan posisi berkat dua kemenangan atas Cile 1-0 dan 2-0 dari Aljazair. Dengan nilai 4 dan selisih gol 3 memasukan dan belum kemasukan. Tiba hari penentuan dimana Jerman berhadapan dengan Austria  pada 25 Juni di Stadion El Molinon, Gijon. Jika saja kedudukan berakhir  imbang maka, Austria dan Aljazair yang berhak menjadi  wakil Grup  2.  Artinya hanya kemenanganlah yang bisa  menolong Jerman Barat  untuk bisa melaju ke babak knock-out. Atau  bahkan  Jerman Barat  bisa berdampingan dengan Aljazair jika mereka bisa menang dengan tiga gol. Tapi  apa yang terjadi, pertemuan Jerman Barat  melawan  Austria, berlangsung tidak menarik. Terutama setelah Horst Hrubesch mencetak  gol  di menit ke-10. Pertandingan  menjadi  monoton,  bahkan Jerman  Barat seperti tak lagi mau menambah gol. Begitu pun Austria,  seakan  enggan membalas  ketertinggalannya.  Itu  lantaran dengan hasil 1-0 saja keduanya menjadi kontestan di babak knock-out. Kedekatan  Jerman Barat dengan Austria, sebagai sesama tim  Eropa disinyalir  telah  mendatangkan sentimen “anti”  Afrika.  Bermain aman di laga terakhir menjadi bukti tersahihnya. Bukan  hanya  Aljazair yang merasa  dikecewakan  lantaran  mereka tersingkir  karena  skandal “Main Mata” antara Jerman  Barat  dan Austria. Tapi kekecewaan dari individu Rabah Madjer yang saat itu dibesar-besarkan  sebagai  bintang baru terasa sangat  dalam.  Ia harus pulang, karena ada campur tangan politik  “saling  tolong” antar sesama tim Eropa. Terbuangnya  Aljazair   dan  terkuburnya  kebintangan  Madjer  di Espana  ’82 menjadi bukti jika campur tangan politik dalam  sepak bola akan terasa sangat kejam. Beruntung  Madjer  masih bisa bangkit lewat  karier  cemerlangnya bersama  klub, hingga pernah membela klub besar seperti FC  Porto di Liga Portugal dan Valencia di Liga Spanyol. Madjer juga  dinobatkan sebagai pemain terbaik Afrika sepanjang massa. Tapi jika tidak ada skandal “Main Mata”, sentimen Eropa,  mungkin sang bintang Afrika, Rabah Madjer lebih benderang di ranah  sepak bola. (**) sumber

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA