Siasati Pubertasi Dini, Orangtua Harus Cerdas

Pubertas adalah masa transisi atau perkembangan anak secara bertahap, fisik dan emosional menjadi orang dewasa. Anak yang berada pada masa pubertas mengalami pertumbuhan tulang dan otot yang cepat, perubahan bentuk dan ukuran tubuh, serta pengembangan

Siasati Pubertasi Dini, Orangtua Harus Cerdas

CIAMIS,FOKUSJabar.com: Pubertas adalah masa transisi atau perkembangan anak secara bertahap, fisik dan emosional menjadi orang dewasa. Anak yang berada pada masa pubertas mengalami pertumbuhan tulang dan otot yang cepat, perubahan bentuk dan ukuran tubuh, serta pengembangan kemampuan tubuh untuk bereproduksi. Biasanya pubertas dimulai setelah usia 8 tahun untuk anak perempuan dan 9 tahun untuk anak laki-laki. Pubertas yang dimulai sebelum usia normal disebut pubertas dini atau pubertas prekoks (precocious puberty). Anak yang memiliki pubertas dini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pubertas, meskipun misalnya usianya baru 5 tahun. Tanda-tandanya seperti berikut : Untuk perempuan perkembangan payudara, pertumbuhan rambut kemaluan dan ketiak, pertumbuhan tinggi badan yang pesat, menstruasi pertama (menarche), jerawat, dan bau badan dewasa. Dan untuk Laki-laki pembesaran testis dan penis, pertumbuhan rambut kemaluan, ketiak dan wajah, pertumbuhan tinggi badan yang pesat, suara lebih berat, jerawat, dan bau badan dewasa. Diperkirakan bahwa sekitar 1 dari 5.000 anak mengalami pubertas dini, sepuluh kali lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Secara umum anak-anak sekarang lebih cepat memulai pubertas dibandingkan generasi kakek-nenek mereka, meskipun tidak semuanya dikategorikan pubertas dini. Demikian dikatakan Praktisi Kesehatan Kabupaten Ciamis Dandi, Jumat (31/7/2015). Untuk mengetahui penyebab pubertas dini, perlu dipahami bagaimana pubertas dimulai. Awal pubertas dipicu oleh hipotalamus  yaitu area otak yang membantu mengontrol fungsi kelenjar pituitari/hipofisis. Hipotalamus memberi sinyal kepada kelenjar pituitari (kelenjar seukuran kacang yang berada di dekat dasar otak) untuk membuat hormon, yang kemudian menyebabkan ovarium memproduksi hormon. Hormon itu terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan karakteristik seksual wanita (estrogen) dan testis untuk memproduksi hormon yang bertanggungjawab untuk pertumbuhan dan perkembangan karakteristik seksual laki-laki (testosteron ). Produksi estrogen dan testosteron menyebabkan perubahan fisik di masa pubertas. Pada anak laki-laki, pubertas dini memang jauh lebih jarang terjadi, namun lebih mungkin terkait dengan masalah lain yang mendasari. Selain itu, sekitar 5 persen pubertas dini pada laki-laki adalah kondisi yang diwariskan ayah atau kakek yang memiliki kelainan tersebut di waktu kecil. "Kurang dari 1 persen pubertas dini pada anak perempuan berasal dari 'warisan," tuturnya. Menurut dia, pubertas dini bisa membuay anak menjadi orang dewasa yang pendek. Sebab, ketika pubertas berakhir, pertumbuhan tinggi badanbpun terhenti. "Karena memulai pubertas lebih awal, maka berakhirnya pun lebih awal. Atau saat anak-anak lain tumbuh, dia (pubertas dini) berhenti," jelasnya. Hal itu pun dinilai menyulitjan anak secara emosional dan sosial. Seorang anak perempuan yang mengalami puber dini mungkin akan bingung dan malu dengan perubahan fisik, seperti payudara yang membesar sebelum waktunya. Akibatnya bisa menjadikan anak murung dan mudah terainggung. Begitupun dengan anak laki-laki yang akan lebih agresif dan menunjukan gairah seks yang belum waktunya (tak pantas di usianya). "Itu semua bisa terjadi karena kemajuan teknologi. Mereka bisa terpengaruh media internet yang menyuguhkan sajian yang bisa memacu dan merangsang anak puber dini," jelasnya. Bagaimana mencegahnya?..   Perlu penanganan secara psikologis untuk mencegah anak selalu memikirkan perkembangan seksualnya atau malah menjadi kurang percaya diri. Untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, orangtua perlu menahan diri untuk tidak berfokus pada penampilan, tetapi lebih banyak memberikan pujian untuk prestasi-prestasinya dan mendukung partisipasi anak dalam kegiatan-kegiatan yang positif. "Peran penting orangtua dan lingkungan juga sangat krusial untuk menjaga perilaku pertumbuhan anak. Jangan terlalu menyibukan diri dengan urusan pekerjaan dan mengabaikan kehangatan sentuhan orangtua terhadap sang anak," pungkasnya. (Riza M Irfanyah/ LIN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA