Mengayuh Bakul Docang Sejak 1972

Penampilan nyentrik ala Jokowi rupanya mengilhami Suntaro (83) berjualan makanan khas Cirebon Docang di Jalan Karanggetas Gang Rotan I Kota Cirebon atau sekira 100 meter dari depan Yogya Grand supermarket. caption id attachment 150171 align align

Mengayuh Bakul Docang Sejak 1972

CIREBON, FOKUSJabar.com: Penampilan nyentrik ala Jokowi rupanya mengilhami Suntaro (83) berjualan makanan khas Cirebon Docang di Jalan Karanggetas Gang Rotan I Kota Cirebon  atau sekira 100 meter dari depan Yogya Grand supermarket. [caption id="attachment_150171" align="aligncenter" width="735"] Suntaro (83) sedang meracik makanan khas Cirebon Docang di Jalan Karanggetas Gang Rotan I Kota Cirebon (Foto: Panji)[/caption] Lelaki kelahiran tahun 1930 ini masih menyimpan semangat mudanya meraup rezeki di Gang Rotan I ini. Di usianya yang senja, kondisi bapak ini seperti tak memiliki beban berat. Tak jarang, Mang Taro panggilan akrab Suntaro melontarkan lelucon kepada pelanggan setia maupun pelanggan barunya di tengah kesibukannya memenuhi pesanan. "Bli nganggo kelapa ya mang," sahut salah seorang pembeli. "Iya beli nganggo kelapa wong kita mah nganggoe celana," canda Mang Taro menghibur pembeli. Dengan kemeja kotak-kotak dipadu topi bundar di kepalanya, pesona dan semangat muda Mang Taro semakit terlihat dari penampilannya ketika menggunakan celana kain abu-abu dipadukan dengan sepatu cats warna hitam putih. [caption id="attachment_150172" align="aligncenter" width="735"] Suntaro (83) sedang meracik makanan khas Cirebon Docang di Jalan Karanggetas Gang Rotan I Kota Cirebon (Foto: Panji)[/caption] Semangatnya telah membawa Mang Taro tetap mempertahankan warisan leluhurnya berjualan Docang bercitarasa khas Cirebon. Jalan Karanggetas Gang Rotan I Kota Cirebon ini bisa dibilang menjadi saksi bisu dari sejarah usaha yang dijalankan keluarga mang Taro. Sejak tahun 1927, Mang Taro memakai sepeda ontelnya  berjualan Docang. Lelaki yang tinggal di kawasan Tegal Sari Plered tersebut rela mengayuh sepeda tuanya dari rumah tempat jualan yang sudah turun temurun itu. "Ya di gang sini saya jualan. Sejak harga Docang masih Rp10 per porsi saya yang jualan. Dulu ibu saya juga jualannya di sini selain beliau berkeliling Kota Cirebon," sahutnya dengan semangat. Salah satu warung Docang tertua yang masih bertahan hingga di pusaran modernisasi ini tetap dicintai pelanggan setianya. "Bukan cuma docang dan rasanya saja, tapi tempatnya juga sudah turun temurun menjadi lahan saya dan keluarga dulu jualan docang. Orang-orang juga sudah pada tahu kalau di sini ada Docang Mang Taro. Bahkan orang Cirebon yang merantau ke luar kota ketika pulang pasti mampir ke sini. Hidup matinya rezeki saya di sini ini,"tuturmya. Tak membutuhkan waktu banyak untuk mengabiskan persediaan Docang di pagi hari. Docang yang dijajakan lulusan Sekolah Rakyat (SR) Jatimerta ini selalu habis kurang dari sehari. "Mengalir saja gimana rezekinya. Kadangt saya buka jam 08.00, jam 12.oo baru habis, bahkan kadang jam 1o.00 sudah habis. Kalau puasa saya libur total mas, nggak dagang sebulan penuh. Itu momen penting untuk fokus ibadah," ungkapnya. (Panji/LIN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA