Hari Hijab Sedunia dobrak stereotip perempuan Muslim

Hari Jilbab Sedunia, yang dimulai pada 2013, mendorong perempuan dari semua latar belakang untuk mengenakan jilbab dalam mendukung perempuan Muslim

Hari Hijab Sedunia dobrak stereotip perempuan Muslim

ANKARA 

Hari Jilbab Sedunia, yang dimulai pada 2013 untuk mendorong perempuan dari semua agama dan latar belakang untuk mengenakan jilbab dalam mendukung perempuan Muslim, dirayakan pada Jumat.

Pada 2017, Hari Hijab Sedunia menjadi organisasi nirlaba, dengan misi untuk memerangi diskriminasi terhadap perempuan Muslim melalui kesadaran dan pendidikan.

Menurut pernyataan dari LSM pendiri acara tahunan itu, moto untuk Hari Hijab Sedunia (WHD) 2019 adalah "Mematahkan Stereotip, Menghapuskan Batas" dengan mengusung tagar #FreeInHijab.

"#FreeInHijab adalah tagar yang sangat dibutuhkan untuk situasi global kita saat ini, di mana perempuan berjilbab diberi label oleh media sebagai kaum tertindas dan secara simbolis dipenjara," kata Nazma Khan kepada Anadolu Agency dalam wawancara eksklusif menjelang peluncuran kampanye.

“Melalui hashtag ini, perempuan didorong untuk menyuarakan pilihan mereka mengenakan jilbab, dengan demikian bisa menghilangkan kesalahpahaman umum,” tambah Khan.

Menurutnya, motif di balik penciptaan hari itu adalah kesulitan yang dia hadapi karena jilbabnya ketika dia tumbuh dewasa di kota New York.

“Saya terus-menerus diganggu di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Diskriminasi meningkat setelah 9/11,” ujarnya, mengingat kembali serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Khan mengatakan ada banyak batu loncatan dalam lima tahun terakhir dan salah satunya adalah pengakuan WHD oleh pemerintah negara bagian New York pada 2017.

"Pada tahun yang sama, Dewan Rakyat Inggris juga mengadakan acara untuk memperingati hari itu, di mana Perdana Menteri Theresa May juga hadir," tambahnya.

Pada 2018, Parlemen Skotlandia juga menyelenggarakan pameran tiga hari untuk memperingati hari itu, sementara Filipina juga mengambil langkah-langkah untuk menyatakan 1 Februari sebagai hari hijab nasional.

Menurut pernyataan LSM, misi utama WHD adalah untuk menciptakan dunia yang lebih damai di mana warga global saling menghormati satu sama lain dan berfokus dalam memerangi kefanatikan, diskriminasi dan prasangka terhadap perempuan Muslim.

"Gerakan ini sangat penting dalam masa-masa di mana Hijab dilarang di beberapa negara, sementara di negara-negara lain perempuan Muslim menjadi sasaran dan dilecehkan secara verbal dan fisik," kata pernyataan itu.

"Kita harus berdiri demi hak perempuan Muslim atas perlindungan," tegas pernyataan itu.

Pernyataan itu juga mengajak para perempuan untuk menunjukkan solidaritas mereka dengan mengenakan jilbab atau memposting foto dengan jilbab dan bergabung dengan percakapan online menggunakan tagar #FreeInHijab dan #WorldHijabDay pada 1 Februari.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA