Berlebihan Konsumsi Minuman Berenergi, Ibu ini Alami Kebutaan

Apakah kamu pernah mengkonsumsi minuman berenergi? Biasanya orang yang berkegiatan fisik berlebih akan mengandalkan minuman berenergi untuk menunjang aktivitasnya. Apalagi, beberapa merek minuman energi yang ada di pasaran memang terbukti bisa memulihkan

Berlebihan Konsumsi Minuman Berenergi, Ibu ini Alami Kebutaan

FOKUSJabar.com: Apakah kamu pernah mengkonsumsi minuman berenergi? Biasanya orang yang berkegiatan fisik berlebih akan mengandalkan minuman berenergi untuk menunjang aktivitasnya. Apalagi, beberapa merek minuman energi yang ada di pasaran memang terbukti bisa memulihkan tenaga dengan cepat. Namun banyak dari mereka ini yang mengkonsumsi minuman tersebut secara berlebihan, dengan maksud agar tubuh terus bisa bekerja demi memenuhi target setiap harinya. Efek singkat dari minuman jenis ini untuk kekuatan fisik memang menggiurkan. Namun, sudah pada tahu kan efek negatifnya? Seperti yang terjadi pada seorang ibu yang berusia 26 tahun asal Irlandia ini ia nampak seperti pecandu minuman berenergi itu. Karena demi mengkonsumsi minuman tersebut, wanita yang memiliki berat badan sekitar 165 kg tersebut sampai rela merogoh kocek hingga 6 ribu poundsterling (Rp 126 jutaan) per tahun hanya untuk membeli minuman kaleng berenergi, seperti yang dilansir melalui Mirror. Wanita yang diketahui bernama Lena Lupari ini setiap harinya bisa menghabiskan kurang lebih 28 kaleng minuman berenergi setiap hari. Namun itu dulu, karena sekarang efek negatif minuman kaleng itu membuatnya tidak bisa lagi melihat indahnya dunia. Karena kebiasaan mengkonsumsi minuman berenergi secara berlebihan itu ia kini mengidap penyakit Idiopathic Intracranial Hypertension atau pseudotumor cerebri. Di mana, ia mengalami gangguan yang menyebabkan peningkatan tekanan cairan ke otak sehingga penglihatan bisa hilang dari waktu ke waktu hingga akhirnya mengalami kebutaan. Awalnya, ia mengalami sakit kepala hebat yang sering terjadi. Karena tidak menyadarinya, ia hanya meredakan rasa sakitnya dengan obat sakit kepala biasa. Namun, hal itu berubah ketika kondisinya memburuk dan harus dirawat di rumah sakit sekitar 6 hari dan akhirnya mendapat diagnosa penyakit tersebut dari dokter pemeriksa. Hati-hati ya, apapun yang berlebihan memang akhirnya selalu tidak baik. (Cita Amalia)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA