Peringatan Hari Santri Nasional Bertepatan dengan Kebijakan Baca Tulis Al Quran

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mengungkapkan, pemberlakuan kebijakan menggunakan kain sarung setiap hari Jum at dalam rangka Hari Santri Nasional, bertepatan dengan permberlakuan kebijakan belajar Baca Tulis Al Qur an, Qiro ah, dan Kitab Kuning, S

Peringatan Hari Santri Nasional Bertepatan dengan Kebijakan Baca Tulis Al Quran

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mengungkapkan, pemberlakuan kebijakan menggunakan kain sarung setiap hari Jum’at dalam rangka Hari Santri Nasional, bertepatan dengan permberlakuan kebijakan belajar Baca Tulis Al Qur’an, Qiro’ah, dan Kitab Kuning, Sabtu (22/10/2016). Tidak hanya itu, juga pemberlakuan kitab lain sesuai dengan ajaran agama yang dianut oleh pelajar Purwakarta per 1 Desember 2016 mendatang. Dedi Mulyadi mengungkapkan, kebijakan penggunaan kain sarung untuk memperingati Hari Santri Nasional merupakan bagian dari identitas keislaman nusantara. Menurutnya, penggunaan sarung akan membangkitkan suasana pesantren dan nilai-nilai santri di kalangan para pelajar dan pegawai pemerintahan. “Sarungan itu khas Indonesia, khas nusantara, di Sunda ada istilah samping atau sinjang untuk sarung, di Jawa mungkin istilahnya berbeda, begitu pun Makasar, Bali dan Kalimantan. Semua memiliki kekhasannya tersendiri. Kesamaannya satu, tetap sarungan. Maka sarung dalam hal ini merupakan simbol persatuan bangsa," ujar Dedi. Selain itu, sarung juga bisa sebagai simbol persatuan bangsa dan menjadi spirit perlawanan terhadap kolonialisme bangsa asing. Sementara itu, Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama Purwakarta, Kyai Abun Bunyamin menambahkan, momentum Hari Santri kali ini harus menjadi spirit untuk mengaplikasikan Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari saat mempertahankan Indonesia dari rongrongan penjajah. Menurutnya, hakikat Resolusi Jihad tersebut adalah kepemimpinan dan persatuan sebagaimana filosopi sarung yang dikemukakan oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. “Kalau dulu generasi Hadratusy Syaikh berjuang melawan kolonialisme. Hari ini sudah saatnya para santri berdikari, melawan penjajahan ekonomi, budaya dengan mempererat persatuan dan kepemimpinan. Santri bukan hanya pemimpin bagi dirinya, tetapi juga pemimpin bagi masyarakat," ujarnya. (Adi/Yun)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA