2018 Partisipasi SMA/SMK di Jabar Bakal Meningkat

Tahun 2018, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bertekad meningkatkan angka partisipasi SMA SMK menjadi di atas 95 persen. Hal itu pun seiring diberlakukannya Undang undang pendidikan tentang pengelolaan SMA SMK oleh pemerintah provinsi. Aher meyakini bah

2018 Partisipasi SMA/SMK di Jabar Bakal Meningkat

BANDUNG,FOKUSJabar.com: Tahun 2018, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bertekad meningkatkan angka partisipasi SMA/SMK menjadi di atas 95 persen. Hal itu pun seiring diberlakukannya Undang-undang pendidikan tentang pengelolaan SMA/SMK oleh pemerintah provinsi. Aher meyakini bahwa dengan beralihnya kewenangan tersebut, Pemprov akan lebih mudah menjalankan program wajib belajar 12 tahun. Lebih lanjut Aher menilai, meskipun kuantitasnya meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, namun angka partisipasi kasar SMA/SMK di Jabar masih tergolong rendah. Hal itu tidak terlepas daer berbagai faktor, salah satunya, yakni mininmnya ketersediaan sekolah terutama di pelosok. Menurutnya, banyak siswa lulusan SMP yang ingin melanjutkan ke SMA/SMK. Namun, keinginan mereka terhambat karena kesulitan mengakses sekolah tersebut. Tidak semua daerah/kecamatan di Jabar memiliki SMA/SMK. Oleh karena itu, kata Aher, saat ini pemprov tengah melakukan pemetaan terkait daerah-daerah mana saja yang hingga kini belum terdapat SMA/SMK. "Tahun ini ditargetkan (pemetaan SMA/SMK) selesai. Kawasan-kawasan mana saja yang masih ada blank spot, masih kurang gedung SMA/SMK-nya. Kita akan segera bangun," kata Aher di Bandung. Paling tidak, saat ini sudah dipetakan dan diharapkan tahun 2015 ini DED bisa dibuat. Sehingga tahun depan tinggal proses pembangunan. Selain peningkatan APK SMA/SMK, Aher pun berjanji akan meningkatkan kualitas SMA/SMK di daerah agar sejajar dengan perkotaan. Pihaknya akan mendorong penambahan kelas dan infrastruktur belajar lainnya. Selain itu, pemprov pun akan menerapkan kebijakan yang bertujuan meningkatkan kualitas pengajar di daerah. "Kita akan meratakan kualitas. Mereka (kepala sekolah di SMA/SMK favorit) harus jadi mentor, mengayomi SMA lain. Atau salah satu guru di SMA 3 (sekolah favorit) jadi kepala sekolah (di daerah)," tuturnya. (Budi /LIN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA