Turbulensi tarif pesawat yang mengguncang masyarakat

Ada petisi di Change.org yang meminta pemerintah menurunkan harga tiket pesawat, khususnya untuk penerbangan domestik

Turbulensi tarif pesawat yang mengguncang masyarakat

JAKARTA 

Harga tiket pesawat terbang menjadi topik pembahasan yang ramai diperbincangkan di masyarakat.

Seperti biasa pada masa libur Natal dan Tahun Baru, harga tiket pesawat memang lebih tinggi dari biasanya.

Aulia Widadio, salah seorang penumpang pesawat terbang dengan rute Jakarta-Padang dan Padang Jakarta, harus membayar tarif lebih tinggi dari biasanya baru-baru ini.

Pada tanggal 29 Desember dia terbang ke Padang dengan harga tiket Rp1 juta menggunakan maskapai Lion Air.

Kemudian dia kembali ke Jakarta pada tanggal 6 Januari menggunakan maskapai Citilink dengan harga tiket Rp1,5 juta.

“Memang saya pergi bertepatan dengan peak season tahun baru. Tapi biasanya tidak semahal ini kalau akhir tahun,” ungkap dia kepada Anadolu Agency, Senin.

Menurut Aulia, harga tiket yang dia beli setara dengan harga tiket pada saat Iedul Fitri 2018.

Namun, saat dia mencari penerbangan pada bulan lain di luar masa libur, harga tiket pesawat menurut dia, juga masih mahal untuk rute Jakarta-Padang dengan harga mencapai Rp1,5 juta sekali jalan menggunakan Citilink dan Sriwijaya.

“Untuk Lion dan Batik sedikit lebih terjangkau dengan harga Rp900 ribuan sekali jalan,” tambah Aulia.

Aulia tidak sendiri. Banyak masyarakat lainnya yang juga merasakan keberatan yang sama dengan harga tiket pesawat yang dianggap terlalu mahal.

Bahkan, ada petisi di Change.org yang meminta pemerintah menurunkan harga tiket pesawat, khususnya untuk penerbangan domestik.

Dalam petisi berjudul Turunkan Harga Tiket Pesawat Domestik Indonesia, terpantau 177.006 orang sudah menandatangani petisi tersebut hingga Senin ini.

Fenomena unik lain yang timbul akibat mahalnya tiket pesawat domestik ini adalah masyarakat Aceh banyak yang membuat passport terlebih dahulu hanya untuk terbang ke Jakarta.

Ini karena harga tiket Banda Aceh-Jakarta yang sangat mahal mencapai Rp3 juta. Sehingga masyarakat lebih memilih penerbangan dengan rute Banda Aceh-Jakarta via Kuala Lumpur yang harga tiketnya hanya sekitar Rp1jutaan.

Selain itu, rute penerbangan domestik juga lebih mahal daripada rute internasional. Tiket dari Banda Aceh menuju Medan untuk penerbangan April misalnya, terpantau seharga Rp436 ribuan menggunakan Lion Air. Sementara untuk rute Banda Aceh-Kuala Lumpur harga tiketnya hanya sekitar Rp315 ribu.

Turut sumbang inflasi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kenaikan tarif pesawat terbang rute domestik turut menyumbang inflasi pada bulan November dengan andil 0,05 persen dari total inflasi month to mont November sebesar 0,27 persen dan inflasi year on year 3,23 persen.

Inflasi yang disebabkan oleh harga tiket penerbangan juga berlangsung pada Desember yang menyumbangkan inflasi sebesar 0,19 persen dari total inflasi month to month sebesar 0,62 persen dan inflasi year on year 3,13 persen.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo juga memperkirakan tarif angkutan penerbangan akan turut menyumbang inflasi pada Januari meskipun dampaknya tidak akan terlalu besar sehingga inflasi masih akan tetap terkendali.

Sementara itu, pada 10 Januari lalu, Indonesia National Air Carrier (INACA) atau asosiasi maskapai dalam negeri menegaskan bahwa kisaran harga tiket pesawat telah mengacu pada aturan terkait tarif batas atas tiket penerbangan yang diatur Kementerian Perhubungan.

Sekretaris Jenderal INACA Tengku Burhanuddin mengatakan periode peak season Natal dan Tahun Baru akan berlangsung hingga 14 Januari.

“Harga tiket penerbangan menyesuaikan dengan demand permintaan yang masih tinggi pada periode Natal dan Tahun Baru,” ungkap Tengku.

Maskapai menurut Tengku, menjual harga tiket juga menyesuaikan besarannya dengan peningkatan biaya pendukung seperti biaya navigasi, biaya bandara, avtur, dan kurs dolar yang fluktuatif. Namun, masih dalam batas yang ditentukan oleh Kementerian Perhubungan.

Tarif turun karena desakan masyarakat

Maraknya desakan dan keluhan masyarakat akan mahalnya tarif penerbangan domestik akhirnya membuahkan hasil. INACA pada 13 Januari mengumumkan telah menurunkan tarif tiket penerbangan sejak Jumat, 11 Januari lalu.

Ketua Umum INACA Ari Askhara mengatakan penurunan tarif penerbangan domestik berlaku untuk rute seperti Jakarta-Denpasar, Jakarta-Jogjakarta, Jakarta-Surabaya, Bandung-Denpasar, dan akan dilanjutkan dengan rute penerbangan domestik lainnya.

“(Penurunan harga tiket) ini menyusul keprihatinan masyarakat atas tingginya harga tiket,” ungkap Ari.

Penurunan harga tiket ini menurut dia, juga karena adanya komitmen positive atas penurunan biaya kebandaraan dan navigasi dari para stakeholder seperti AP1, AP 2, AirNav dan Pertamina.

Ari menambahkan INACA tetap paham dan mengerti akan kebutuhan masyarakat meskipun di tengah kesulitan yang dialami maskapai.

“Kami memastikan komitmen untuk memperkuat akses masyarakat terhadap layanan penerbangan nasional serta keberlangsungan industri penerbangan nasional tetap terjaga,” jelas Ari.

Ari menambahkan seluruh anggota INACA serta seluruh jajaran terkait pemangku kepentingan layanan penerbangan nasional seperti pengelola bandara, badan navigasi, hingga pemangku kepentingan lainnya telah melaksanakan pembahasan intensif terkait penurunan struktur biaya pendukung layanan kebandarudaraan dan navigasi.

“Pembahasan ini agar dapat selaras dengan mekanisme pasar industri penerbangan dan daya beli masyarakat,” imbuh Ari

Melalui penyesuaian struktur biaya layanan penerbangan tersebut khususnya pada aspek biaya pendukung layanan kebandarudaraan dan biaya navigasi, Ari mengatakan maskapai dapat menyesuaikan struktur biaya operasional layanan penerbangan sehingga dapat menurunkan tarif tiket penerbangan.

INACA berharap dengan penurunan tarif penerbangan ini, maka akses masyarakat terhadap layanan transportasi udara dapat semakin terbuka luas.

“Selain itu, kami harapkan komitmen bersama ini dapat meningkatkan sektor perekonomian nasional mengingat layanan transportasi udara memegang peranan penting dalam menunjang pertumbuhan infrastruktur perekonomian,” harap Ari.

INACA menurut dia, akan memastikan penurunan tarif tiket penerbangan tersebut sesuai dengan koridor regulasi dan aturan tata kelola industri penerbangan nasional serta tetap mengutamakan keselamatan penerbangan.

“Penurunan tarif ini akan diikuti dengan peningkatan pengawasan atas safety dan maintenance seluruh pesawat,” lanjut dia.

Ari mengakui bahwa penurunan tarif penerbangan domestik ini merupakan bentuk kepedulian INACA terhadap kebutuhan masyarakat atas akses transportasi udara, di tengah kesulitan maskapai nasional yang sudah cukup lama terjadi.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA