Serikat Buruh desak PM Theresa May tunda Brexit

Para pemimpin serikat pekerja terbesar di Inggris mengatakan Pasal 50 harus diperluas untuk mencegah keluarnya Inggris dari EU tanpa kesepakatan

Serikat Buruh desak PM Theresa May tunda Brexit

LONDON

Pemimpin dua serikat pekerja terbesar Inggris pada Kamis meminta Perdana Menteri Theresa May untuk menunda Brexit guna mencegah keluarnya Inggris dari EU tanpa kesepakatan.

Dalam pertemuan terpisah dengan May, Len McCluskey dari Unite dan Dave Prentis dari Unison membahas beratnya meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan dan kebutuhan untuk perpanjangan Pasal 50, bagian dari perjanjian Uni Eropa yang mengatur kepergian Inggris.

"Saya juga telah menjelaskan bahwa jika dia serius bernegosiasi dan melihat apakah ada kesepakatan yang didukung parlemen, maka harus ada perpanjangan Pasal 50," ujar McCluskey setelah pertemuan.

"Saya tidak bisa membayangkan perdana menteri Inggris membawa kami keluar dari Eropa tanpa kesepakatan. Itu akan menjadi bencana besar. Dia sudah diberitahu dari semua bagian," tambahnya.

Ketua serikat Unite itu mempertanyakan kesungguhan May, menanyakan apakah pertemuan itu adalah langkah promosi untuk media atau apakah upayanya untuk menjangkau serikat pekerja adalah tindakan tulus dalam mencoba memecahkan kebuntuan Brexit.

Setelah pertemuan itu, McCluskey mengatakan bahwa dia mengerti mengapa pemimpin oposisi Partai Buruh Jeremy Corbyn tidak mengadakan pembicaraan dengan May.

Prentis mengatakan bahwa penundaan Brexit diperlukan untuk mencegah skenario tanpa kesepakatan dan membawa Inggris kembali dari tepi jurang.

“Brexit tanpa kesepakatan harus dihindari dengan cara apa pun dan perdana menteri perlu segera mengesampingkannya. Keluar dari Eropa akan menjadi bencana besar bagi perekonomian, layanan publik dan semua orang yang bekerja di sekolah, rumah sakit, balai kota, dan kepolisian kita,” katanya.

“Namun orang-orang telah memilih pada Juni 2016, tidak seorang pun memilih untuk menjadi lebih buruk. Negara ini sangat membutuhkan politisi yang bisa menemukan solusi untuk kebuntuan yang melumpuhkan negara,” tambahnya, merujuk pada referendum Brexit 2106.

Setelah menderita kekalahan bersejarah di parlemen soal kesepakatan Brexit, May dijadwalkan untuk mempresentasikan rencana cadangannya pada 29 Januari, sebelum anggota parlemen melakukan pemungutan suara lagi.

Inggris dijadwalkan untuk meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret 2019.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA