Pengamat: Pertumbuhan ekonomi triwulan III agak mengejutkan

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2018 secara nominal di atas ekspektasi, tapi kualitasnya rendah

Pengamat: Pertumbuhan ekonomi triwulan III agak mengejutkan

JAKARTA

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III yang sebesar 5,17 persen, menurut beberapa pengamat, di luar ekspektasi karena lebih baik dari perkiraan.

Direktur Riset Center of Economic Reform (CORE) Piter Abdullah mengatakan kepada Anadolu Agency di Jakarta, Selasa, kebanyakan ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat pada kisaran 5,1-5,15 persen.

“Faktor pendorong utamanya yang meningkat cukup besar,” kata dia.

Dia menjelaskan faktor pendorong utamanya, yang merupakan realisasi pertumbuhan triwulan III, adalah investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) yang meningkat menjadi 6,96 persen dari sebelumnya 5,87 persen pada triwulan II,” ungkap dia.

Peningkatan investasi (PMTB) berdasarkan data BPS ini, menurut dia, di luar dugaan karena terjadi setelah rilis angka investasi oleh BKPM yang menunjukkan penurunan.

BKPM sudah melansir nilai realisasi investasi triwulan III sebesar Rp173,8 triliun, turun 1,6 persen yoy dari periode sama tahun lalu yang berjumlah Rp1176,7 triliun.

Piter menambahkan meskipun investasi (PMTB) berdasarkan data BPS meningkat, namun secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tetap melambat dibandingkan triwulan II.

“Ini lebih disebabkan pertumbuhan konsumsi yang sesuai prediksi lebih rendah dibandingkan triwulan II,” jelas Piter.

Terlepas dari faktor kejutannya, Piter menjelaskan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,17 persen menyiratkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 akan lebih baik dibandingkan tahun 2017, tetapi tidak akan bisa mencapai target pemerintah.

Bahkan, dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini tidak akan mencapai 5,2 persen.

“Pemerintah harus bekerja keras agar dua bulan tersisa investasi dan konsumsi bisa menggerakkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik,” imbuh dia.

-Kualitas pertumbuhan rendah

Sementara itu, pada kesempatan yang berbeda, Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2018 secara nominal di atas ekspektasi, tapi kualitasnya rendah.

Pada triwulan III terdapat beberapa tantangan seperti penurunan harga komoditas perkebunan seperti sawit dan karet berpengaruh terhadap kinerja ekspor yang cuma tumbuh 7,52 persen (yoy).

Kemudian kinerja konsumsi rumah tangga stagnan di 5,01 persen. Dia melihat konsumsi ini perlu jadi perhatian utama karena porsinya 55,26 persen, atau turun di banding triwulan III 2017 yakni 55,73 persen.

“Padahal pada triwulan III ada momentum Asian Games, yang ternyata daya dorong ke konsumsinya tidak besar dan hanya berefek lokal di Jakarta dan Palembang,” jelas Bhima.

Menurut dia, pemerintah harus segera cari solusi terhadap kepercayaan konsumen di tengah naiknya bunga kredit, pelemahan kurs rupiah, dan tekanan harga bbm non-subsidi.

“Masyarakat harus kembali konsumsi sehingga ekonomi tumbuh lebih tinggi lagi,” lanjut dia.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III menurut Bhima, masih tergerus impor yang tumbuh 14,06 persen dengan porsi yang makin besar naik dari 18,84 persen pada triwulan III 2017 menjadi 22,81 persen pada triwulan III 2018.

“Ini kan tidak sehat karena kita semakin bergantung pada barang impor,” ungkap Bhima.

Dari sisi lapangan usaha, Bhima mengatakan yang harus menjadi perhatian adalah industri pengolahan yang tumbuhnya hanya 4,33 persen yoy. Share manufaktur anjlok ke 19,33 persen terhadap PDB.

“Ini kita perlu bertanya kok sudah banyak paket kebijakan sampai berjilid jilid industri manufakturnya merosot terus. Kemudian pemerintah mau loncat ke industri 4.0. Kayaknya masih mimpi itu,” cetus dia.

Sektor pertanian menurut dia, juga tidak berkembang. Pertumbuhannya hanya 3,62 persen dengan porsi turun ke 13,5 persen terhadap PDB.

“Bagaimana pertanian kita mau berkembang jika terus terusan dibanjiri impor dengan data kementerian pertanian yang tidak kredibel,” kritik Bhima.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA