Neraca pembayaran Indonesia 2018 alami defisit

Defisit NPI 2018 sebesar USD7,1 miliar terbentuk dari defisit transaksi berjalan sebesar USD31,1 miliar atau 2,9 persen dari PDB dan surplus pada transaksi modal dan finansial sebesar USD25,2 miliar

Neraca pembayaran Indonesia 2018 alami defisit

JAKARTA

Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tahun 2018 mengalami defisit sebesar USD7,1 miliar setelah terakhir kali mengalami defisit pada tahun 2015 sebesar USD1,1 miliar.

Berdasarkan data BI, pada tahun 2016 NPI surplus USD12,1 miliar dan pada tahun 2017 juga mengalami surplus sebesar USD11,6 miliar.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik Yati Kurniati mengatakan defisit ini terbentuk dari defisit transaksi berjalan sepanjang tahun sebesar USD31,1 miliar atau 2,9 persen dari PDB yang kemudian dikompensasi dengan surplus pada transaksi modal dan finansial sebesar USD25,2 miliar.

“Pada tiga triwulan awal 2018 memang berat dengan sangat rendahnya tekanan yang berasa pada nilai tukar di pertengahan tahun,” jelas dia dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Berdasarkan data BI, sepanjang tahun 2018 NPI baru mengalami surplus pada triwulan IV setelah pada triwulan I hingga III selalu defisit.

Pada triwulan I NPI mengalami defisit sebesar USD3,8 miliar. Kemudian pada triwulan II juga defisit USD4,3 miliar dan defisit pada triwulan III sebesar USD4,4 miliar.

“Alhamdulillah pada triwulan IV NPI surplus sebesar USD5,4 miliar yang menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga,” jelas dia.

Sumber surplus pada NPI triwulan IV berasal dari surplus transaksi modal dan finansial sebesar USD15,7 miliar yang meningkat tajam dari surplus tiga triwulan sebelumnya.

Pada triwulan I surplus dari transaksi modal dan finansial sebesar USD2,3 miliar dan pada triwulan II surplus sebesar USD3,3 miliar serta surplus triwulan III sebesar USD3,9 miliar. Secara total transaksi modal dan finansial pada 2018 mengalami surplus USD25,2 miliar.

“Surplus transaksi modal dan finansial meningkat sejak November dan Desember dalam bentuk saham yang sebelumnya banyak keluar,” urai Yati

Yati menambahkan ada faktor-faktor domestik yang memang menarik modal asing masuk dengan beberapa kali kebijakan BI menaikkan suku bunga yang membuat yield spread dari surat berharga Indonesia relatif menarik dari emerging market lainnya.

“Arus modal masuk itu mampu mengkompensasi CAD yang meningkat dari ekspektasi,” imbuh dia.

Kemudian Yati mengatakan pada triwulan IV transaksi berjalan masih tetap mengalami defisit sebesar USD9,1 miliar atau 3,57 persen dari PDB.

Defisit pada transaksi berjalan ini melanjutkan tren yang terjadi pada triwulan I dengan defisit sebesar USD5,3 miliar, pada triwulan II defisit sebesar USD7,9 miliar, dan pada triwulan III defisit transaksi berjalan (CAD) sebesar USD8,6 miliar.

“Secara keseluruhan sepanjang tahun 2018 CAD mengalami defisit USD31,1 miliar atau 2,9 persen dari PDB,” jelas Yati.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA