Lion Air bantah JT-610 PK LQP tidak laik terbang

Presiden Direktur Lion Air akan meminta klarifikasi tertulis kepada KNKT mengenai pernyataan tidak laik terbang itu, bahkan memungkinkan untuk mengambil langkah hukum

Lion Air bantah JT-610 PK LQP tidak laik terbang

JAKARTA 

Maskapai Penerbangan Lion Air membantah hasil laporan awal Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang menyatakan Pesawat PK LQP JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, tidak laik terbang. 

Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait mengatakan pada penerbangan sebelumnya, yakni rute Denpasar-Jakarta, pesawat tersebut dinyatakan layak terbang sesuai dokumen yang dirilis oleh teknisinya. 

" Pernyataan tidak laik terbang bisa membuat persepsi terhadap kejadian yang ada menjadi berbeda," ujar Edward Sirait di kantornya di Jakarta pada Rabu. 

Lion Air, kata dia, akan meminta klarifikasi secara tertulis kepada KNKT mengenai pernyataan tidak laik terbang itu.

Bahkan dia menyebut adanya kemungkinan langkah hukum jika KNKT tidak merespon permintaan klarifikasi tersebut. 

"Kami akan tempuh jalur hukum karena ini sudah tendensius, tapi kita tetap akan melakukan klarifikasi tertulis," tambah dia. 

Padahal, kata dia, maskapainya selalu mengutamakan keselamatan penerbangan.

Dia juga mempertanyakan pernyataan KNKT yang menyebut Lion Air seringkali menyampaikan data yang tidak sesuai kepada otoritas penerbangan.

"Ini perlu kita minta yang tidak benar yang mana," kata dia. 

Berdasarkan preliminary report atau laporan awal mengenai hasil investigasi jatuhnya pesawat Lion Air PK LQP, KNKT menyebut pesawat yang jatuh 29 Oktober itu sudah bermasalah sejak enam penerbangan terakhir. 

Ketua Subkomite Investigasi Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengatakan berdasarkan temuan yang diperoleh dari Flight Data Recorder (FDR), permasalahan itu terjadi sejak 26 Oktober 2018, tiga hari sebelum kecelakaan. Dia menyatakan pesawat tersebut tidak laik terbang. 

“Setiap gangguan sudah diperbaiki dan ditandatangani oleh release man, sehingga secara hukum pesawat laik terbang,” ujar Nurcahyo, saat menyampaikan preliminary report investigasi KNKT mengenai kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 PK-LQP, Rabu, di Jakarta.

Salah satu penerbangan bermasalah itu, ujar Nurcahyo, terjadi pada rute Denpasar-Jakarta, menurut Nurcahyo, yang dilakukan pada 28 Oktober 2018 malam.

Saat berangkat dari Denpasar pada pukul 22.20 WITA, kata Nurcahyo, FDR merekam adanya stick shaker yang aktif sesaat sebelum lepas landas dan selama penerbangan berlangsung.

Stick shaker, ujar Nurcahyo, merupakan peringatan teknis yang mengindikasikan pesawat akan stall atau kehilangan daya angkat.

Pada saat itu, lanjut Nurcahyo, pilot memutuskan melanjutkan penerbangan dengan mengalihkan kendali auto-pilot menjadi manual.

Hingga pesawat berhasil mendarat di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 22.56 WIB dengan selamat, setelah terbang selama 96 menit, tambah Nurcahyo. 

Esoknya, kata Nurcahyo, pesawat kembali terbang menuju Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, pada pukul 06.20 WIB, namun hilang kontak setelah 13 menit mengudara.

Pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP berjenis Boeing 737 MAX 8 kecelakaan pada Senin 29 Oktober 2018 di Laut Jawa, tepatnya di Perairan Karawang, Jawa Barat.

Ini merupakan pesawat baru Lion Air jenis B 737-800 Max yang beroperasi sejak Agustus lalu dengan lama penerbangan 800 jam.

Pesawat berisikan 189 orang, terdiri dari 181 penumpang dan delapan lainnya awak pesawat.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA