Kucuran modal asing mulai deras ke SBN

Hingga minggu ini aliran modal yang masuk untuk pembelian SBN mencapai Rp9,09 triliun

Kucuran modal asing mulai deras ke SBN

JAKARTA

Bank Indonesia menyebut arus modal asing yang masuk ke Indonesia dalam bentuk pembelian surat berharga negara (SBN) mulai deras.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, menyebut hingga minggu ini aliran modal yang masuk untuk pembelian SBN mencapai Rp9,09 triliun.

Secara keseluruhan hingga 25 Oktober, arus modal yang masuk month to date sebesar Rp8,26 triliun.

“Karena dalam beberapa minggu sebelumnya ada aksi jual,” ungkap Perry.

Sementara itu, sepanjang tahun hingga tanggal 25 atau year to date, jumlah arus modal asing yang masuk mencapai Rp22,97 triliun. Perkembangan arus modal asing yang masuk ini menurut Perry, mengkonfirmasi bahwa langkah-langkah yang ditempuh BI untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia berhasil.

“Langkah BI dalam bentuk kenaikan suku bunga yang kita lakukan selama ini dapat menarik aliran modal masuk,” jelas Perry.

Kebijakan yang ditempuh BI tersebut dengan menaikkan suku bunga sebanyak 150 basis poin dari bulan Mei menurut Perry, juga merupakan bagian dari koordinasi dengan pemerintah untuk menurunkan defisit transaksi berjalan (CAD).

Dengan kenaikan suku bunga, Perry menjelaskan relatif membuat nilai tukar rupiah stabil sehingga mendorong aliran modal asing masuk dalam bentuk portofolio khususnya fix income securities di dalam surat berharga negara.

Akan tetapi, Perry mengatakan arus modal asing yang masuk ke pasar saham masih seret. Selama minggu ini hanya ada Rp0,2 triliun aliran modal asing yang masuk.

Sementara arus modal keluar dari pasar saham year to date ungkap Perry, mencapai Rp4,4 triliun. “Ini terkait perkembangan ekonomi glonal dan indeks harga saham di AS,” ujar dia.

Arus modal asing yang masuk ujar dia, juga menambah suplai di pasar valas. Dan dengan adanya dukungan dari perbankan dan korporasi untuk terus berkontribusi dalam mekanisme supply demand di pasar valas dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

“Ini juga sebagai bentuk confidence investor global terhadap ekonomi Indonesia baik secara makro, sektor riil, serta koordinasi yang BI lakukan dengan pemerintah untuk menurunkan CAD,” urai Perry.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA