Investasi kuartal III hanya Rp173 triliun, turun 1,6%

Investasi asing paling banyak turun karena pelemahan rupiah, suku bunga The Fed dan perang dagang

Investasi kuartal III hanya Rp173 triliun, turun 1,6%

Jakarta

Realisasi investasi pada kuartal III 2018 melambat signifikan hingga minus 1,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, karena ketergantungan pada investasi asing yang sedemikian besar, kata Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengatakan Pada triwulan III 2018 investasi hanya mencapai Rp173,8 triliun padahal periode yang sama tahun lalu mencapai Rp176, 6 triliun.

Kondisi ini disebabkan berbagai faktor eksternal, seperti fluktuasi nilai rupiah, kenaikan suku bunga The Fed, penguatan mata uang dolar di pasar global serta perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

“Investor memilih untuk wait and see dan menunda realisasi investasi yang sudah direncanakan,” ujar Lembong di Jakarta, Selasa.

Sejak tahun lalu, kata Lembong, realisasi investasi sebenarnya tumbuh konsisten di atas 11 persen kecuali kuartal lalu yang hanya tumbuh 3,1 persen. Ternyata tren negatif ini berlanjut hingga kuartal ketiga.

Sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebenarnya naik signifikan hingga 30 persen sebesar Rp84,7 triliun, namun investasi asing turun 20,2 persen dari Rp111,7 triliun menjadi Rp89,1 triliun.

Total realisasi investasi menjadi negatif karena besarnya peran modal asing dalam struktur investasi di Indonesia.

Sepanjang kuartal III 2018, modal asing yang masuk Rp89,1 triliun atau 51,27 persen dari total investasi.

Sementara selama semester I-2018, FDI berperan 54,86 persen dari total investasi, kata Lembong.

Menurut Lembong, pemerintah akan mengkali dan mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang dianggap mengganggu investasi.

Selain itu juga mengantisipasi faktor-faktor eksternal yang berdampak pada realisasi investasi seperti krisis di Turki dan Argentina, ujar dia.

Meski kuartal III tumbuh negatif, total realisasi investasi Januari-September naik tipis 4,3 persen dibanding periode lalu, dari Rp513 triliun menjadi Rp535,4 persen.

Menurut BKPM, dana tersebut sebagian besar terserap di lima provinsi yaitu Jawa Barat (Rp88 triliun), Jakarta (Rp85 triliun), Banten (Rp49 triliun) Jawa Tengah (Rp41 triliun) dan Jawa Timur (Rp36 triliun).

Sektornya antara lain transportasi, gudang, telekomunikasi sebesar Rp70 triliun, kemudian listrik gas dan air sebesar Rp68 triliun.

Kemudian pertambangan Rp58 triliun; perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp57 triliun; kemudian industri makanan Rp43 triliun.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Farah Ratnadewi mengatakan modal-modal tersebut bisa menyerap 213 ribu tenaga kerja.

“Peluang tenaga kerja di Indonesia terbuka lebar dengan masuknya perusahaan di bidang usaha baru yang menawarkan banyak teknologi,” ujar dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA