Instrumen fiskal jadi andalan genjot investasi

Investasi khususnya untuk penanaman modal asing pada 2018 tidak mencapai target akibat turbulensi yang terjadi sepanjang tahun lalu pada perekonomian global

Instrumen fiskal jadi andalan genjot investasi

JAKARTA

Pemerintah mengatakan akan menggunakan instrumen fiskal seperti tax holiday dan tax allowance untuk meningkatkan masuknya investasi pada tahun ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui investasi khususnya untuk penanaman modal asing pada 2018 tidak mencapai target akibat turbulensi yang terjadi sepanjang tahun lalu pada perekonomian global.

“Guncangan itu mempengaruhi berbagai sentimen di seluruh negara di dunia sehingga banyak capital outflow,” jelas Menteri Sri dalam diskusi di Jakarta, Kamis.

Meski begitu, Menteri Sri mengatakan dampak dari ketidakpastian global terhadap investasi hanya bersifat jangka pendek.

Para investor akan melakukan penilaian kembali terhadap kondisi perekonomian suatu negara untuk memutuskan investasinya, termasuk juga terhadap Indonesia.

“Dalam dua bulan ini saja sudah terjadi normalisasi inflow,” ungkap Menteri Sri.

Dia mengatakan instrumen fiskal tersebut mulai diminati para investor. Sebagai contoh, tax holiday sudah dinikmati oleh 12 wajib pajak dengan rencana investasi Rp210,8 triliun dan penyerapan tenaga kerja mencapai 10.587 orang.

“Investasi yang mendapatkan fasilitas tax holiday berasal dari China, Hongkong, Singapura, Jepang, Belanda, Malaysia, dan Indonesia,” jelas Menteri Sri.

Sementara untuk tax allowance, Sri Mulyani mengungkapkan sudah sebanyak 149 surat keputusan pemberian fasilitas yang dikeluarkan untuk 132 wajib pajak.

Rencana investasi menggunakan fasilitas ini mencapai Rp138,32 triliun dan USD9,6 miliar dengan realisasi investasi Rp63,5 triliun dan USD7,6 miliar.

Selain menggunakan instrumen fiskal tersebut, Menteri Sri mengatakan pemerintah sedang mendorong kemudahan ekspor dan impor barang dalam rangka menjaga momentum investasi.

“Termasuk juga berbagai investasi untuk membangun infrastruktur dan juga peningkatan kualitas SDM,” tambah dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga mengungkapkan momentum investasi dalam negeri sebenarnya masih kuat, terlihat dari pertumbuhan kredit di atas 11 persen dan kemampuan sektor capital market dan pembiayaan bond market dari permodalan sektor swasta juga positif.

“Jadi kami jaga momentumnya supaya pada 2019 ini investasi bisa lebih baik lagi,” tambah dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA