Indonesia ekspor baja ke Amerika dan Sri Lanka

Perusahaan ini juga sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Hanwa American Corp untuk ekspor baja batangan sebanyak 50.000 metrik ton

Indonesia ekspor baja ke Amerika dan Sri Lanka

JAKARTA

Indonesia kembali mengekspor baja struktur ke Sri Lanka sebanyak 300 ton dan pelat baja ke Australia sebanyak 400 ton yang diberangkatkan dari Cikarang, Jawa Barat, Kamis.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan baja tersebut adalah produksi PT Gunung Raja Paksi Tbk. (GRP) yang mengekspor pertama kali pada tahun ini.

Menurut Enggar, ekspor ini bisa jadi katalis yang sangat penting, untuk mendorong pertumbuhan industri domestik dan menangkap peluang pasar global dan meningkatkan ekspor nasional.

“Besi dan baja merupakan komoditas yang sangat penting bagi pembangunan suatu bangsa,” ujar Menteri Enggar.

Menurut dia, besi dan baja merupakan bahan yang dipakai dalam berbagai industri karena sifat-sifatnya yang bervariasi dan fleksibel. Mulai dari industri konstruksi dan bangunan, otomotif, sampai dengan peralatan dapur dan rumah tangga.

Ekspor besi dan baja Indonesia pada 2018 mengalami kenaikan yang cukup tajam dari USD3,33 miliar pada 2017 menjadi USD5,75 miliar pada 2018 atau naik sebesar 72,40 persen.

Sedangkan total ekspor Indonesia pada 2018 mengalami kenaikan dari USD 168,82 miliar pada 2017 menjadi USD 180,06 miliar pada 2018 atau naik sebesar 6,65 persen. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai USD 162,65 miliar atau naik sebesar 6,25 persen.

Menurut Menteri Enggar, pertumbuhan ekspor nasional tidak hanya peran pemerintah namun membutuhkan partisipasi aktif pelaku usaha nasional.

Perusahaan ini juga sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Hanwa American Corp untuk ekspor baja batangan sebanyak 50.000 MT.

CEO PT GRP, Alouisius Maseimilian pihaknya segera mengoperasikan fasilitas blast furnace pada semester kedua 2019 yang akan meningkatkan kapasitas produksi bahan baku utama berupa slab dari penyerapan sumber bijih besi lokal. Fasilitas ini juga akan mengurangi biaya produksi.

“Ini upaya perusahaan untuk mampu memenuhi kebutuhan baja nasional,” ujar dia.

Menurut Menteri Enggar, pemerintah juga sedang berusaha melakukan diversifikasi pasar dengan membidik pasar nontradisional seperti Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, Eurasia, dan Amerika Latin melalui negosiasi dan inisiasi perjanjian perdagangan bebas serta kegiatan promosi yang berkelanjutan.

Selain itu, dengan melakukan pengamanan perdagangan, baik di dalam dan di luar negeri; dan memfasilitasi perdagangan melalui kebijakan penyederhanaan perizinan perdagangan, serta pembinaan produk dan SDM ekspor.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA