Indonesia dorong Pertamina serius implementasikan B20

Program B20 saat ini masih belum optimal karena ada oknum yang justru mengimpor BBM dalam jumlah besar

Indonesia dorong Pertamina serius implementasikan B20

JAKARTA

Pemerintah meminta PT Pertamina serius untuk mengimplementasikan program B20 untuk turut membantu menekan defisit perdagangan sektor migas.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution berharap Pertamina bisa menjadi pemimpin dalam pengembangan program B20.

“Kita tidak ingin swasta sudah memenuhi, tapi Pertamina masih setengah-setengah,” tegas dia dalam Pertamina Energy Forum di Jakarta, Rabu.

Menko Darmin mengakui program B20 saat ini masih belum optimal karena pemerintah telah mengidentifikasi adanya oknum yang justru mengimpor BBM dalam jumlah besar sehingga neraca perdagangan sektor migas masih tinggi.

“Saya tidak mau bilang siapa itu. Tapi kita akan bereskan. Kita belum tahu kenapa (alasannya) tapi sudah tahu siapa,” tegas dia.

Oleh karena itu, apabila Pertamina semakin serius menggarap program B20 serta mengembangkan kilang-kilang baru dan petrochemical, maka diharapkan negara akan dapat mengurangi defisit perdagangan sektor migas dan bahkan bisa mencatatkan surplus.

Menko Darmin telah mengungkapkan kendala belum optimalnya program B20 karena saat ini masih terlalu banyak titik pencampuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari CPO untuk pengolahan B20 yang mencapao 100 titik.

“Jadi perlu banyak kapal untuk pengiriman FAME ke titik pencampuran,” ujar dia.

Akan tetapi, kapal yang ada menurut Menko Darmin, tidak mencukupi karena setiap kapal yang mengangkut FAME harus memiliki sertifikat dari Pertamina. Terkait kendala tersebut, pemerintah telah meminta Pertamina menurunkan jumlah titik pencampurannya.

“Tadinya saya minta jadi 11 titik, tapi Pertamina masih menawar sampai akhir tahun menjadi 24 titik,” lanjut dia.

Pertamina menurut dia, baru menyanggupi untuk menurunkan jumlah titik pencampuran FAME untuk B20 menjadi 11 titik pada tahun depan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA