Ekonomi Indonesia tumbuh 5,17% meskipun ekonomi global melambat

BPS menyebut pertumbuhan ekonomi ini menunjukkan tren yang sangat bagus karena terus menunjukkan peningkatan sejak tahun 2015 dengan pertumbuhan ekonomi saat itu 4,88 persen

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,17% meskipun ekonomi global melambat

JAKARTA 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia keseluruhan sepanjang tahun 2018 sebesar 5,17 persen meskipun ekonomi global masih penuh ketidakpastian dan melemahnya harga komoditas.

Sementara pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV tahun 2018 sebesar 5,18 persen (year on year).

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pertumbuhan ekonomi ini menunjukkan tren yang sangat bagus karena terus menunjukkan peningkatan sejak tahun 2015 dengan pertumbuhan ekonomi saat itu 4,88 persen.

Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini terjadi di tengah menurunnya harga komoditas nonmigas di pasar internasional pada triwulan IV yang turun secara triwulan ke triwulan ataupun tahun ke tahun.

“Begitu pun harga komoditas migas pada triwulan IV juga turun secara triwulan ke triwulan namun mengalami kenaikan secara tahun ke tahun,” ungkap Suhariyanto dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu.

Dia menjabarkan harga Indonesia Crude Price (ICP) pada triwulan IV sebesar USD65,12 per barel yang turun 9,11 persen daripada harga ICP triwulan III sebesar USD71,64 per barel. Namun, harga ICP membaik 12,1 persen dari triwulan IV 2017 yang saat itu seharga USD58,09 per barel.

Selanjutnya, BPS menyebut pertumbuhan negara mitra dagang utama Indonesia juga cenderung melambat.

Pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 6,4 persen pada triwulan IV tahun 2018 daripada 6,5 persen pada triwulan III tahun 2018 dan 6,7 persen pada triwulan IV tahun 2017.

“Pertumbuhan China jadi perhatian karena ekspor kita paling besar ke China sebesar 14,5 persen,” ujar Suhariyanto.

Kemudian pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat juga diperkirakan stagnan pada posisi 3 persen pada triwulan IV tahun 2018 namun lebih tinggi dari triwulan IV 2017 yang sebesar 2,5 persen.

Dia mengatakan kontribusi ekspor Indonesia ke AS juga tinggi sebesar 11 persen.

Suhariyanto menambahkan pertumbuhan ekonomi Jepang diperkirakan menguat dari 0,1 persen pada triwulan III tahun 2018 menjadi 0,6 persen pada triwulan IV tahun 2018, namun masih lebih rendah dari triwulan IV 2017 yang sebesar 2,4 persen.

“Ekspor Indonesia ke Jepang juga tinggi sebesar 9,4 persen,” imbuh dia.

Dia menambahkan pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama lainnya yakni Singapura melambat menjadi 2,2 persen pada triwulan IV tahun 2018 bila dibandingkan dengan triwulan III tahun 2018 yang sebesar 2,3 persen dan 3,6 persen pada triwulan IV tahun 2017.

“Di tengah ekonomi global yang tidak jelas dan harga komoditas yang turun, maka saya bisa bilang ini capaian yang menggembirakan,” tegas Suhariyanto.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA