BI: Permintaan domestik topang pertumbuhan ekonomi

Permintaan domestik pada triwulan III tahun ini tumbuh 6,40 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II yang sebesar 6,35 persen (yoy)

BI: Permintaan domestik topang pertumbuhan ekonomi

JAKARTA

Bank Indonesia (BI) menyebut pertumbuhan ekonomi pada triwulan III yang sebesar 5,17 persen disokong oleh permintaan domestik karena adanya peran kuat dari investasi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman dalam keterangannya, Selasa, mengatakan permintaan domestik pada triwulan III tahun ini tumbuh 6,40 persen year on year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II yang sebesar 6,35 persen (yoy).

“Peran dominan permintaan domestik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran terutama bersumber dari investasi dan belanja pemerintah,” jelas dia.

Sebagaimana data dari BPS, pada triwulan III investasi tumbuh sebesar 6,96 persen (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,86 persen (yoy).

“Pertumbuhan investasi yang kuat didukung investasi bangunan dan investasi nonbangunan,” imbuh Agusman.

Kemudian, dia menambahkan ekspansi belanja pemerintah mencapai 6,28 persen (yoy), sehingga menjadi pertumbuhan tertinggi sejak 2016.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,14 persen (yoy).

Selanjutnya, Agusman mengatakan permintaan domestik yang tetap kuat menurut dia, mendorong impor tumbuh tetap tinggi yakni 14,06 persen (yoy), meskipun lebih rendah dibandingkan dengan kinerja triwulan sebelumnya sebesar 15,26 persen (yoy).

Sementara ekspor hanya mencatat pertumbuhan 7,52 persen, lebih rendah dari capaian triwulan sebelumnya sebesar 7,63 persen (yoy).

“Sektor eksternal berkontribusi negatif pada pertumbuhan ekonomi akibat kinerja ekspor yang melemah di tengah impor yang masih tumbuh cukup tinggi,” lanjut Agusman.

Masih tingginya laju ekspor menurut dia, karena merespon pertumbuhan ekonomi domestik. Oleh karena itu, Ekspor neto yang negatif jelas dia, menahan kenaikan pertumbuhan ekonomi triwulan III dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan II yang tercatat sebesar 5,27 persen (yoy).

Pertumbuhan ekonomi triwulan III ungkap dia, juga ditopang perbaikan kinerja di berbagai lapangan usaha (LU). Kinerja di sektor primer membaik terutama didorong LU pertambangan yang membaik, sedangkan kinerja LU pertanian lebih terbatas.

Sektor sekunder juga membaik terutama akibat pertumbuhan di LU industri pengolahan yang meningkat sejalan dukungan ekspor beberapa produk seperti bahan kimia dan besi baja.

“Perbaikan kinerja di sektor tersier juga merata sejalan dengan peningkatan permintaan domestik,” ucap Agusman.

Dia menambahkan peningkatan pertumbuhan tertinggi pada LU jasa-jasa lainnya terutama terjadi pada jasa administrasi pemerintahan, jasa perusahaan, dan jasa kesehatan. Sementara kinerja LU perdagangan, LU penyediaan akomodasi dan makan minum, serta LU konstruksi membaik lebih moderat.

“Bank Indonesia berkomitmen terus menjaga stabilitas ekonomi serta memperkuat bauran kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal dan kebijakan struktural,” tegas dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA