Ahli: Penguatan nilai tukar rupiah bersifat temporer

Penguatan rupiah beberapa hari terakhir masih dipertanyakan akan berlangsung seberapa lama

Ahli: Penguatan nilai tukar rupiah bersifat temporer

JAKARTA

Penguatan nilai tukar rupiah yang berhasil keluar dari zona Rp15 ribu bersifat temporer, kata beberapa analis finansial.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan kepada Anadolu Agency, Kamis, penguatan ini masih temporer karena sentimen dari internal. Sentimen tersebut berasal dari mulai masuknya arus modal asing ke sektor riil dan pasar surat utang negara serta penguatan cadangan devisa pada Oktober.

Penguatan rupiah, menurut Reza, masih menjadi tanda tanya seberapa lama berlangsungnya.

“Balik lagi ke usaha pemerintah dan BI untuk menjaga rupiah,” ungkap dia.

Reza mengatakan upaya dari sisi fiskal bisa melalui pembatasan impor dan pendayagunaan industri pengolahan dalam negeri sehingga mengurangi ketergantungan impor.

Selain itu, pemakaian rupiah dalam setiap transaksi di dalam negeri harus terus digencarkan.

Dari sisi moneter, Reza menambahkan BI perlu terus mendorong transaksi swap dengan menggunakan mata uang selain USD, operasi pasar terbuka, serta mengatur lalu lintas pembayaran dengan banyak menggunakan rupiah.

Kebijakan kenaikan suku bunga, menurut dia, tidak akan banyak berpengaruh terhadap penguatan nilai tukar rupiah.

“Kita harapkan penguatan rupiah bisa berlangsung lama untuk mengimbangi potensi dari kenaikan nilai USD karena sentimen rapat FOMC The Fed,” lanjut dia.

Nilai tukar rupiah pada Rabu sore ditutup di level Rp14.590 per dolar AS, atau menguat 1,52 persen dari pembukaan kemarin. Sementara untuk hari ini, rupiah dibuka pada posisi Rp14.613 per dolar AS.

Analis global market Bank Mega James Evan Tumbuan mengatakan penguatan rupiah secara signifikan pada kemarin karena arus modal asing yang masuk ke pasar obligasi cukup banyak sehingga membawa imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia turun ke level 7,97 persen.

“Posisi yield ini belum pernah kita lihat sejak 1 Oktober,” ungkap Evan.

Selain itu, lanjut Evan, permintaan obligasi pemerintah Indonesia sangat banyak yang berasal dari offshore. Ini terlihat dari lelang surat utang negara pada Selasa kemarin yang ramai peminat dengan mencatatkan penawaran yang masuk mencapai Rp59,48 triliun.

Bid to cover ratio naik menjadi 5,9 kali dari rata-rata 4,5 kali dalam satu bulan terakhir.

“Investor yang tidak sempat masuk pada lelang hari Selasa, masuk kembali ke secondary market pada hari Rabu,” jelas dia.

Evan menambahkan secara fundamental investor menganggap baik data ekonomi Indonesia.

Data ekonomi tersebut antara lain pertumbuhan di atas 5 persen, inflasi rendah, defisit fiskal rendah, debt to GDP ratio rendah, kebijakan sangat progresif, dan struktur kebijakan untuk investasi yang ambisius.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA