Lokasi Banjir Bandang Subang Akan Diteliti Ahli Geologi

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) meninjau secara langsung lokasi banjir bandang di Kampung Cihideung, Desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, pada Kamis (26 5 2016). Aher pun meminta agar pemukiman warga di Kampung Cihideung terseb

Lokasi Banjir Bandang Subang Akan Diteliti Ahli Geologi

SUBANG, FOKUSJabar.com : Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) meninjau secara langsung lokasi banjir bandang di Kampung Cihideung, Desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, pada Kamis (26/5/2016). Aher pun meminta agar pemukiman warga di Kampung Cihideung tersebut diteliti oleh ahli Geologi untuk mengetahui kelayakan lokasi tersebut sebagai pemukiman warga. Hal ini dilakukan sesuai dengan keinginan warga kampung tersebut. Mereka tidak ingin direlokasi dan ingin kembali membangun tempat tinggalnya yang sudah hancur karena musibah banjir bandang ini. Namun, Aher mengatakan keinginan warga tersebut akan diakomodasi dengan syarat lokasi Kampung Cihideung ini layak untuk dijadikan pemukiman warga. "Tentu ke depan juga kita akan merehabilitasi rumah-rumah mereka dengan terlebih dahulu meminta bantuan kepada Badan Geologi untuk memeriksa pertanahannya. Kalau ada retakan dan kalau tidak memungkinkan tentu tadi saya meminta kepada Plt. Bupati Subang untuk segera mencarikan lahan pengganti," ungkap Aher. Pada kesempatan ini, Aher pun sempat meninjau para pengungsi yang ada di balai desa. Kebanyakan warga mengaku trauma dengan kejadian banjir bandang yang terjadi sekitar pukul 21.00 WIB pada Minggu malam (22/5/2016) lalu. "Mudah-mudahan kita bisa melakukan mitigasi bencana dengan secepatnya. Kemudian bisa merehabilitasi mental warga disana atau trauma hilling. Tadi saya ngobrol dengan warga mereka bilang trauma, mungkin selama dua bulan mereka akan ingat terus (bencana banjir bandang)," kata Aher. Pihak Pemprov Jawa Barat akan terus mendorong upaya mitigasi bencana, salah satunya dengan mengarahkan masyarakat – khususnya yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana agar menghindar dari daerah tersebut. "Longsor itu adalah tabiat, artinya sifat tanah yang original. Begitu Allah menciptakannya. Nah, yang terpenting adalah bagaimana kita mengarahkan masyarakat untuk menghindari tempat-tempat longsor tersebut," papar Aher. Akibat bencana ini enam orang meninggal dunia, enam rumah warga rusak berat, dan belasan rumah lainnya rusak ringan. Kampung Cihideung sendiri dihuni oleh 116 kepala keluarga dengan 388 orang penduduk. Saat ini, untuk sementara mereka mengungsi di balai desa serta di rumah-rumah warga yang tidak terkena dampak banjir bandang ini. Plt. Bupati Subang Imas Aryumningsih mengatakan banjir bandang ini terjadi akibat longsor. Namun, ia mengaku longsor tersebut terjadi bukan karena maraknya penebangan pohon di kawasan hutan. Imas menjelaskan, bencana terjadi karena tanah di kawasan tersebut yang memang rawan longsor. Longsoran tanah tersebut kemudian tertahan oleh pohon besar yang tumbang, sehingga menyumbat aliran air dan kemudian air tersebut menerjang pemukiman warga. "Bencana ini terjadi Minggu jam 9 malam dan memang hujan terus menerus malam itu. Dan terjadi longsor dari gunung. Sebetulnya (hutan) terjaga banget tidak banyak penebangan pohon hanya memang alur tanahnya saja yang memang rawan dan curam, gunungnya tinggi," ungkap Imas. Pada kesempatan ini Pemprov Jawa Barat pun memberikan bantuan kepada masyarakat korban bencana banjir bandang ini. Bantuan yang diberikan berupa beras dan berbagai jenis makanan instan, air mineral, genset, mesin penyedot air, dan peralatan bangunan lainnya, selimut, handuk, keperluan kewanitaan dan bayi. Selain itu ada juga bantuan dari Badan Ketahanan Pangan Jabar yaitu sebanyak 3.930 kg beras dan bantuan dari BNPB berupa family kit, alat kesehatan, baju anak, tambahan gizi, lauk pauk, dan makanan siap saji. (LIN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA