Insiden RSKIA Ajang Cari Untung Kelompok Tertentu

Mencuatnya insiden persalinan yang berujung kematian bayi dan pengangkatan janin terhadap pasien Yuli Supriati (36) di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Bandung Jawa Barat, menjadi ajang ambil keuntungan sejumlah kelompok tak bertanggungjawab. Sua

Insiden RSKIA Ajang Cari Untung Kelompok Tertentu

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Mencuatnya insiden persalinan yang berujung kematian bayi dan pengangkatan janin terhadap pasien Yuli Supriati (36) di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Bandung Jawa Barat, menjadi ajang ambil keuntungan sejumlah kelompok tak bertanggungjawab. Suami Yuli, Asep Irfan Rahman Gojali (39) mengungkapkan, sejauh ini ada beberapa pihak yang mengklaim telah menangani kasusnya itu, padahal pihaknya baru mengadukannya ke lembaga pemerintahan. "Saya tidak laporan ke LSM, Apalagi lembaga konsumen. Saya baru laporan ke DPRD Kota Bandung dan Konsultasi dengan Polda Jabar," ungkap Asep saat disambangi di Gedebage Kota Bandung, Senin (23/5/2016). Dia tidak akan berhenti atau terjebak respon-respon kelompok yang berkepentingan. Asep menegaskan, persoalan ini akan terus berlanjut ke ranah hukum dan saat ini pemulihan kondisi sang istri menjadi prioritas. "Akan dilanjut. Namun saat ini fokus dulu ke keluarga dan anak istri yang sakit hati," jelas dia. Dia mengatakan, persiapan untuk pelaporan tengah disusun saat ini, salah satu di antaranya dari saksi ahli medis yang nantinya sebagai dasar laporan ke Polda Jawa Barat. "Sudah tekad saya. Ini cobaan luar biasa, istri saya koma, anak saya meninggal. Yang saya sampaikan itu, yang benar benar terjadi," katanya. Diberitakan sebelumnya, RSKIA Kota Bandung, Jawa Barat diduga lalai dalam persalinan pasien Yuli melalui operasi cesar. Akibatnya, pasien mengalami koma selama sepekan. "Istri saya dioperasi cesar untuk mengeluarkan janin yang katanya meninggal di dalam kandungan," ujar Asep Irfan Rahman Gojali (39), suami Yuli, kepada wartawan, Rabu, 18 Mei 2016. Saat operasi, kata Asep, rahim istrinya harus diangkat karena pendarahan. "Jadi, ada asumsi kesalahan medis sehingga rahim robek atau faktor lain," kata Asep. (Adi/LIN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA