BPOM Bandung Temukan Makanan Takjil Mengandung Zat Berbahaya

Petugas Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandung Inayah menyebutkan, dari 21 sampel hidangan untuk berbuka puasa, dua diantaranya mengandung zat berbahaya. Ke 21 sampel tersebut didapatkan dari empat titik yang menjual makanan untuk takjil. capt

BPOM Bandung Temukan Makanan Takjil Mengandung Zat Berbahaya

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Petugas Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandung Inayah menyebutkan, dari 21 sampel hidangan untuk berbuka puasa, dua diantaranya mengandung zat berbahaya. Ke 21 sampel tersebut didapatkan dari empat titik yang menjual makanan untuk takjil. [caption id="attachment_138643" align="aligncenter" width="700"] inayah, Petugas BPOM Bandung (Foto : Budi)[/caption] "Mulai dari Cikapundung, Pasundan, Dalam Kaum sama Kepatihan. Kita menemukan minuman pacar cina yang positif zat kimia rodamin B dan lontong yang mengandung borak," sebut Inayah kepada wartawan di Kawasan Alun-alun Kota Bandung, Senin (29/6/2015). Menurut Inayah, zat rodhamin B salah satu jenis pewarna tekstil, yang apabila di konsumsi dalam jangka waktu yang panjang akan menyebabkan kanker. [caption id="attachment_138644" align="aligncenter" width="700"] inayah, Petugas BPOM Bandung (Foto : Budi)[/caption] "Kita bisa membedakan kalau makanan yang mengandung zat pewarna, warnanya terang, jika diminum ada rasa agak pait," terang Inayah. Inayah mengungkapkan, borak adalah zat yang sering ditemui di masyarakat. Biasanya digunakan untuk canpuran pembuat lonyong atau baso supaya lebih kenyal. "Kalau di masyarakat biasanya dinamai pijer atau bleng. Pijer dan bleng itu sebenarnya boraks.. Jadi, mungkin masyarakat nggak tahu kalau itu berbahaya, mereka hanya berpikir bahwa itu membantu mengenyalkan produknya padahal sebetulnya itu mengandung boraks yang membahayakan kesehatan," ungkapnya. Inayah mengatakan, pihaknya akan melakukan pembinaan kepada para penjual yang masih menjual makanan dengan menggunakan zat yang berbaahaya. "Pertama pastinya kita akan berikan pembinaan. Itu tindak lanjut pertama yang akan kita lakukan. Apalagi untuk masyarakat kecil kita paham lah mungkin mereka belum dapat informasinya. Jadi kita masih punya PR untuk informasi, komunikasi dan edukasi ke masyarakat," pungkasnya. (Budi/DEN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA