Utusan AS untuk sengketa Qatar mundur

Anthony Zinni mengutip keengganan regional untuk mengakhiri perselisihan

Utusan AS untuk sengketa Qatar mundur

WASHINGTON

Tokoh penting dalam proses resolusi sengketa yang sedang berlangsung antara Qatar dan negara-negara Arab mengundurkan diri dari jabatannya dengan alasan tidak adanya keinginan kawasan untuk mengakhiri perselisihan.

Pensiunan Korps Marinir Jenderal Anthony Zinni mengatakan kepada CBS News bahwa dia tidak bisa membuat kemajuan karena keengganan para pemimpin regional untuk menyetujui upaya mediasi yang ditawarkan untuk melakukan dan membantu proses implementasi.

Dia meragukan jika keterlibatannya dalam pembentukan NATO Arab - aliansi yang diusulkan Presiden AS Donald Trump untuk menghadapi Iran - masih dibutuhkan.

Zinni mengatakan pejabat pemerintah lainnya sedang berupaya untuk mengadakan pertemuan Aliansi Strategis Timur Tengah.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Robert Palladino mengatakan kepada Anadolu Agency dalam sebuah pernyataan bahwa upaya untuk membentuk aliansi berjalan dengan baik berkat upaya Zinni.

Palladino menegaskan bahwa pemerintah, melalui proses antarlembaga yang dipimpin oleh Departemen Luar Negeri, akan meneruskan misi tersebut.

"Jenderal Zinni mengatakan kepada kami bahwa dia tetap ada jika diperlukan. Kami berterima kasih kepada Jenderal Zinni untuk kerja samanya dengan Departemen Luar Negeri dan pelayanannya kepada negara," tambahnya.

Zinni menandatangani kontrak untuk bekerja sebagai penasihat khusus menteri luar negeri pada 2017 atas permintaan mantan Menteri Pertahanan James Mattis dan mantan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson.

Kedua pejabat tinggi tersebut telah meninggalkan pemerintahan karena perselisihan kebijakan dengan presiden.

Mattis mengundurkan diri sebagai bentuk protes pada Desember, sementara Tillerson dipecat oleh Trump melalui Twitter pada Maret lalu.

Zinni sebelumnya menjabat sebagai kepala Komando Sentral AS dan telah menjadi utusan khusus untuk perdamaian Timur Tengah sejak pemerintahan mantan Presiden George W. Bush.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA