Serbia ultimatum Kosovo soal dialog

Hanya ada sedikit kemungkinan untuk kesepakatan, tetapi kita harus terus berusaha mencapainya, kata presiden Kosovo

Serbia ultimatum Kosovo soal dialog

BELGRADE, Serbia

Dialog dengan Kosovo akan dilanjutkan ketika merela menarik keputusannya yang melanggar hukum, kata Presiden Serbia pada Kamis.

Pernyataan Aleksandar Vucic itu disampaikan menyusul pertemuannya dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini bersama dengan Presiden Kosovo Hashim Thaci di Brussels sebagai bagian dari proses dialog Belgrade-Pristina.

"Dialog akan berlanjut ketika Pristina menarik keputusannya yang melanggar hukum. Kami selalu siap untuk berbicara tentang masa depan dan kompromi. Tidak akan ada perwakilan kami yang akan datang ke sini, ke Brussels, sampai Pristina menghentikan semua tindakan ilegalnya," kata Vucic kepada Radio Television Serbia.

Dia mengatakan bahwa pihak berwenang di ibu kota Kosovo, Pristina, memutuskan untuk menaikkan tarif atas semua barang Serbia dan Bosnia sebesar 10 persen dan berbicara tentang pendirian pos militer di utara tempat orang-orang Serbia tinggal, tetapi Serbia tidak akan mengizinkannya.

Vucic mengatakan hari-hari yang sulit menanti Serbia dalam arti politik karena Pristina melanggar perjanjian CEFTA dan memperkenalkan tarif tambahan atas barang-barang dari Serbia.

"Pihak berwenang Pristina memutuskan untuk menaikkan tarif atas barang-barang Serbia sebesar 10 persen selama beberapa hari terakhir, bertentangan dengan perjanjian CEFTA, yang dikutuk Uni Eropa. Tapi tidak ada yang mempersoalkannya," katanya.

Dia menambahkan bahwa orang-orang Eropa mencoba menendang Serbia keluar dari jaringan listrik di Kosovo utara.

"Orang-orang Eropa berusaha mengeluarkan kita dari jaringan energi di Kosovo utara secara tidak sah. Dalam rancangan itu, usulan untuk menyelesaikan pertikaian energi sudah jelas, bahwa Komunitas Kota Serbia harus dibentuk dan dua perusahaan campuran di utara akan dapat mentransfer listrik ke operator Albania. Mereka sekarang berusaha menyingkirkan kami, mengambil hak kami untuk mentransfer listrik, membuat kami kehilangan jalur listrik ke Makedonia, Albania dan Montenegro," kata Vucic.

Dialog tidak berjalan dengan ultimatum

Saat ini, kemungkinan mencapai perjanjian yang final dan mengikat secara hukum sangat rendah, kata Thaci.

Dia mengatakan topik yang dibahas tidak mudah untuk diselesaikan, tetapi mencapai kesepakatan damai merupakan kepentingan kedua negara.

"Itu bukan tantangan yang mudah dihadapi. Oleh karena itu, saya pikir seluruh kancah politik Kosovo harus berani, energik dan bertekad untuk datang ke sini. Kami akan menghadapinya dan maju," kata Thaci kepada wartawan setelah pertemuan.

Thaci menekankan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengatasi kendala utama.

"Hanya ada sedikit kemungkinan untuk kesepakatan, tetapi kita harus terus berusaha untuk mencapainya," katanya.

Menjawab pertanyaan wartawan, Thaci mengatakan malam ini wacana Serbia sangat agresif dan arogan, sementara wacana Kosovo hanya tentang mencapai kesepakatan seimbang yang akan mencakup pengakuan bersama dan keanggotaan Kosovo di PBB dengan kemungkinan nyata menggantikan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1244.

Mengomentari pernyataan Vucic bahwa pihak Serbia tidak akan bernegosiasi, Thaci mengatakan Belgrade tidak perlu takut soal dialog karena Kosovo akan bertanggung jawab dalam dialog dan dalam pekerjaannya. Dia juga merekomendasikan agar dialog atau negosiasi tidak disertai dengan ultimatum atau suara yang agresif.

"Kami akan bertindak tepat dan konstruktif tetapi kami juga bertekad untuk mencapai kesepakatan tentang pengakuan bersama dan keanggotaan Kosovo di PBB," kata Thaci.

Kosovo secara sepihak menyatakan kemerdekaan dari Serbia pada 2008.

Serbia menolak langkah itu dan tetap menganggap Kosovo sebagai bagian dari wilayahnya, sementara lebih dari 100 negara di seluruh dunia - termasuk Turki, AS, Inggris, Prancis, dan Jerman - mengakuinya sebagai negara merdeka.



TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA