Politisi Inggris: Iran eksploitasi pembunuhan Khashoggi

Kasus pembunuhan Khashoggi perburuk citra Arab Saudi, dan menutup-nutupinya membuar Iran di atas angin, kata eks-menlu Inggris

Politisi Inggris: Iran eksploitasi pembunuhan Khashoggi

WASHINGTON

Jika para pembunuh jurnalis Saudi Jamal Khashoggi lolos dari hukuman, Iran akan mengeksploitasi kasus ini, kata anggota Parlemen Inggris pada Kamis.

Dalam kolom opini di Washington Post, Boris Johnson, mantan menteri luar negeri Inggris, berkata dia percaya kematian Khashoggi dirancang oleh "level tertinggi rezim Saudi".

Khashoggi, kolumnis Washington Post, menghilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah beberapa kali mengubah pernyataan, pemerintah Saudi mengakui Khashoggi telah dibunuh, namun hingga kini belum menyatakan di mana jasadnya.

"Kecurigaan buruk saya -- dan saya berdoa supaya saya salah -- karena alasan satu dan lainnya, para pembunuhnya, atau setidaknya mereka yang memberikan perintah, akan lolos dari hukum," kata Johnson.

Dia menekankan bahwa banyak "orang-orang berkuasa" di seluruh dunia takut bila pemerintahan Saudi yang tak stabil akan menciptakan kekacauan di Timur Tengah, dan kebanyakan pemimpin memilih masalah ini "disapu ke bawah karpet".

Johnson meneruskan, di tengah-tengah kasus Khashoggi ini, dunia harus fokus kepada Iran dan melihat kembali pengaruh negara ini di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.

Dia menambahkan, Iran bertanggung jawab dalam mengeksploitasi kebijakan yang telah dibuat oleh Barat, termasuk mempersenjatai pemberontak Houthi untuk melawan koalisi pimpinan Saudi di Yaman.

"Perang di Yaman ternyata membawa dampak buruk untuk Arab Saudi -- dan sayangnya malah meningkatkan, bukan membalikkan, pengaruh Iran," tukas Johnson.

"Kasus pembunuhan Khashoggi juga membawa dampak buruk untuk Saudi," lanjut Johnson. "Dan bila ada satu hal yang bisa semakin meningkatkan posisi Iran, dan mengarahkan kritik regional kepada rezim Saudi, adalah dengan menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus ini."

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA