Menlu Turki: FETO salahgunakan badan keamanan Eropa

Mevlut Cavusoglu mengungkapkan kekhawatirannya itu dalam pertemuan Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama Eropa

Menlu Turki: FETO salahgunakan badan keamanan Eropa

ANKARA

Menteri luar negeri Turki pada hari Kamis menyatakan ketidaknyamanannya atas partisipasi kelompok-kelompok yang terkait dengan teror di acara-acara Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE).

Berbicara pada pertemuan Dewan Menteri Rapat OSCE yang ke-25 di Milan, Italia, Mevlut Cavusoglu mengatakan bahwa orang dan kelompok-kelompok terkait dengan Fetullah Organisasi Teroris (Feto) telah menyamar sebagai aktor masyarakat sipil dan telah menyalahgunakan agenda OSCE.

"Ini bertentangan dengan aturan OSCE dan praktik masa lalu. Kami telah dengan sabar tetapi juga terus-menerus menyuarakan masalah ini selama dua tahun sekarang, ini tidak dapat dilanjutkan," kata dia.

"Kami mengharapkan solusi konkret dan memuaskan untuk masalah ini, tanpa perdebatan lebih lanjut," imbuh Cavusoglu.

FETO dan pemimpinnya di AS, Fetullah Gulen mengatur upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 yang menyebabkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 orang terluka.

Cavusoglu dalam kesempatan itu juga menyatakan keprihatinan atas ketegangan antara Ukraina dan Rusia menyusul perselisihan di Laut Hitam.

"Perkembangan terakhir di Selat Kerch memprihatinkan. Kami mendesak perilaku yang bertanggung jawab dan menghormati hukum internasional, dan ketegangan harus diturunkan secepat mungkin," tambahnya.

Prajurit Ukraina, termasuk dua agen layanan keamanan, ditangkap pada 25 November oleh Rusia ketika tiga kapal angkatan laut Ukraina di Laut Hitam berusaha memasuki Selat Kerch untuk mencapai Laut Azov.

Cavusoglu mengatakan Turki mendukung kedaulatan dan integritas Ukraina termasuk Krimea.

Rusia dan Ukraina telah berselisih sejak 2014, ketika Rusia mencaplok Krimea setelah referendum kontroversial.

Cavusoglu mengatakan perang dingin seperti Nagorno-Karabakh, Transnistria, Abkhazia, dan Ossetia Selatan memang harus diselesaikan.

"Sekali lagi, prinsip panduan kami harus hukum internasional dan menghormati sepenuhnya integritas wilayah negara-negara yang bersangkutan," katanya.

Cavusoglu juga menyebut kondisi seperti itu membutuhkan aksi kolektif melawan intoleransi dan diskriminasi.

"Pertarungan bersama kami melawan terorisme, radikalisasi dan ekstremisme harus diintensifkan juga," kata Cavusoglu.

Dia menambahkan bahwa Turki berada di garis depan pertarungan ini dan mengharapkan kerjasama yang lebih baik dari teman-temannya.

Sebelumnya pada hari Kamis, Cavusoglu mengadakan pertemuan bilateral dengan Sekretaris Jenderal OSCE Thomas Greminger dan dengan rekan-rekannya dari Kirgistan, Belarusia, Denmark, Belgia dan Austria.


TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA