Media AS: Trump abai pada kebebasan pers

Sejumlah media AS mengatakan keputusan penangguhan akses pers wartawan CNN adalah ancaman bagi kebebasan pers

Media AS: Trump abai pada kebebasan pers

WASHINGTON

Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump -- untuk kesekian kalinya -- cekcok dengan awak media, sejumlah media AS mengkritik Gedung Putih yang abai dalam membela kebebasan pers.

Gedung Putih pada Rabu menangguhkan akses pers koresponden CNN Jim Acosta setelah dia terlibat dalam perdebatan sengit dengan Trump.

Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders menyebutkan alasan penangguhan Acosta adalah karena dia menyentuh tubuh seorang pegawai Gedung Putih tanpa izin.

"Presiden Trump menjunjung tinggi kebebasan pers dan menyambut setiap pertanyaan yang diajukan tentangnya ataupun pemerintah AS. Kami, bagaimanapun, tidak akan mentoleransi tindakan reporter yang menempatkan tangannya pada seorang perempuan muda yang hanya mencoba melakukan pekerjaannya sebagai pegawai magang Gedung Putih," jelas Sanders.

Acosta pun merespons pernyataan itu lewat Twitter: "Itu bohong,"

Sebelumnya, Sanders telah merilis video saat insiden itu terjadi.

"Anda memanipulasi video ini. Kebohongan tak pernah berakhir," tandas Matt Dornic, wakil presiden komunikasi CNN, sambil merilis video dengan durasi lebih panjang, yang menunjukkan bahwa Acosta tidak pernah menaruh tangannya di tubuh pegawai Gedung Putih.

Keputusan Gedung Putih dikritik oleh sejumlah media yang juga mendesak akses pers Acosta untuk dikembalikan.

"Apa yang paling mengkhawatirkan dalam insiden Acosta adalah abainya Trump dengan peran pers bebas dalam tradisi dan demokrasi Amerika," tulis harian New York Times dalam editorialnya.

Pada Rabu, CNN merilis sebuah pernyataan yang berbunyi: "Keputusan itu adalah ancaman bagi demokrasi kita. AS layak mendapatkan yang lebih baik,"

Sementara itu, Washington Post mengatakan CNN harus menggugat Gedung Putih karena mencabut akses Acosta.

"Tindakan itu sama saja menghalangi seorang jurnalis melaksanakan tugasnya untuk memberi informasi kepada publik dan kemudian menciptakan dalih palsu," ujar kolumnis Post Margaret Sullivan.

"Perilaku @realDonaldTrump dan keputusannya menangguhkan akses pers @Acosta tidak dapat diterima. Wartawan memiliki tanggung jawab untuk mempertanyakan pemimpin kami dan meminta pertanggungjawaban mereka," kata Senator Oregon Jeff Merkley lewat Twitter.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA