Inggris nyatakan dukungan untuk pemimpin oposisi Venezuela

Inggris sepenuhnya mendukung ketua Majelis Nasional Juan Guaido sebagai presiden, kata juru bicara Perdana Menteri Theresa May

Inggris nyatakan dukungan untuk pemimpin oposisi Venezuela

LONDON

Inggris menyatakan dukungannya kepada pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido, yang menyatakan dirinya sebagai presiden negara itu, juru bicara Perdana Menteri Theresa May mengatakan pada Kamis.

"Pemilihan presiden 2018 di Venezuela tidak dilakukan dengan bebas dan adil, sehingga dasar kekuasaan rezim sangat cacat," kata juru bicara itu.

"Kami sepenuhnya mendukung Majelis Nasional yang terpilih secara demokratis dengan Juan Guaido sebagai presidennya," tambahnya.

Pernyataan itu disampaikan di tengah krisis pemerintah di Caracas, setelah Ketua Majelis Nasional Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai penjabat presiden Venezuela, sebuah langkah yang dengan segera diakui oleh AS.

"Sehubungan dengan AS, kami pikir keputusan Venezuela untuk memutuskan hubungan diplomatik sangat tidak bisa diterima. Solusi untuk krisis ini terletak pada upaya untuk menemukan solusi damai dan diplomatik, bukan pengusiran," ungkap juru bicara May.

Venezuela diguncang oleh sejumlah aksi protes sejak 10 Januari, ketika Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua setelah pemungutan suara yang diboikot oleh oposisi.

Beberapa negara Amerika Selatan, Rusia dan Turki juga menyatakan solidaritas untuk Maduro.

Brazil dan Organisasi Negara-negara Amerika mengakui Guaido sebagai pemimpin Venezuela sebelum pengumuman resminya.

Argentina, Kanada, Chili, Kolombia, Kosta Rika, Ekuador, Guatemala, Panama dan Paraguay mengikuti jejak itu sementara Bolivia dan Meksiko terus mengakui Maduro.

Maduro mengecam keputusan Trump untuk mengakui Guaido, lalu mengumumkan bahwa negaranya memutuskan hubungan diplomatik dengan AS dan memberikan waktu 72 jam bagi para diplomatnya untuk meninggalkan negara itu.

Dia telah berulang kali mengecam AS, dengan mengatakan bahwa Washington mengobarkan perang ekonomi terhadapnya dan pemerintahannya di tengah kampanye sanksi yang luas.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA