IMF rekomendasi perlambat laju pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik

Faktor-faktor eksternal dan pemilihan umum yang akan dihadapi beberapa negara Asia-Pasifik butuh stabilitas, alih-alih kecepatan

IMF rekomendasi perlambat laju pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik

BALI

Para ekonom di Dana Moneter Internasional (IMF) merekomendasikan supaya negara-negara di Asia-Pasifik memperlambat laju pertumbuhan ekonominya untuk mengawasi situasi dunia dan menjaga stabilitas.

Saran ini diberikan saat sesi diskusi media bersama Departemen Asia-Pasifik IMF saat Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia (AM IMF-WB 2018) di Nusa Dua, Bali, pada Jumat.

“Berita baiknya, selama dekade ini Asia telah menunjukkan progres yang luar biasa, bahkan saat ini Asia memimpin perekonomian global bila dilihat dari angka pertumbuhan,” kata Direktur Departemen Asia-Pasifik IMF Changyong Rhee, menambahkan bahwa kawasan menyumbang 60 persen pertumbuhan ekonomi dunia.

Namun, lanjut Rhee, Asia kini menghadapi sejumlah tantangan. Dalam jangka pendek, tantangan datang dari kondisi finansial yang semakin tertekan dan dampak perang dagang.

Sementara secara jangka panjang, Asia harus mewaspadai tingginya pertumbuhan yang mayoritas ditopang oleh perdagangan, sehingga menurunkan produktivitas.

Ada pula tantangan dari digitalisasi lapangan kerja, tukas Rhee, meski Asia juga menjadi kawasan yang lebih maju secara digital dibandingkan kawasan dunia lain.

Meski begitu, lanjut Rhee, di balik semua tantangan itu IMF masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia sebesar 5,6 persen pada 2018 dan 5,4 persen pada 2019 – turun 0,2 persen dari proyeksi pada April.

Dalam keterangannya, Rhee menyampaikan beberapa proyeksi yang dibuat IMF untuk kawasan Asia-Pasifik.

Inflasi di seluruh Asia diperkirakan akan naik 2,8 persen pada 2018 dan 2,9 persen pada 2019, yang berarti harga beberapa komoditas akan naik.

Tahun ini, perekonomian China diproyeksi akan tumbuh 6,6 persen namun melambat pada 2019 dengan angka 6,2 persen. Penurunan ini sebanyak -0,7 persen disebabkan oleh penetapan tarif AS, dan sebesar +0,5 persen karena stimulus dari pemerintahnya.

Jepang diproyeksikan memiliki pertumbuhan ekonomi 1,1 persen pada 2018, dan naik lagi sebesar 0,9 persen pada 2019.

Ekonomi India diharapkan tumbuh sebesar 7,3 persen tahun ini dan 7,4 persen pada 2019, namun proyeksi ini diturunkan masing-masing sebesar 0,1 persen dan 0,4 persen karena pengaruh tingginya harga minyak dan kondisi finansial global.

Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, diperkirakan akan melambat pertumbuhan ekonominya namun tetap stabil dengan angka 5,1 persen.

Secara global, kata Rhee, utang dunia bertambah banyak. Namun dia memastikan bahwa tipe utang yang dimiliki oleh negara maju dan berkembang berbeda.

“Di Asia, utang yang berasal dari perusahaan dan utang publik naik sangat pesat. Kami khawatir terjadi mis-investasi, yang kemudian bisa menjadi backfire,” tukas Rhee.

Berbagai tantangan eksternal diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun depan, tukas Rhee, sehingga IMF menyarankan supaya Asia dapat memperlambat laju pertumbuhan untuk melihat situasi dan melakukan tindakan mendorong stabilitas.

Apalagi, tambah dia, beberapa negara Asia akan menghadapi pemilihan umum dalam waktu dekat.

“Walaupun sedikit melambatkan laju, kita akan masih menjadi yang tercepat bila dibandingkan yang lain,” tutup Rhee.

Tanggal Diperbarui: 12 Ekim 2018, 12:43
TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA