Hubungan Pakistan-AS yang dingin butuh terobosan

Kunjungan ke-4 Departemen Luar Negeri AS ke Islamabad gagal menghidupkan kembali hubungan yang macet

Hubungan Pakistan-AS yang dingin butuh terobosan

Aamir Latif

KARACHI, Pakistan

AS dan Pakistan pada Selasa kembali mengadakan pembicaraan untuk menemukan cara untuk mengurangi ketegangan diplomatik yang meningkat.

Alice Wells, asisten menteri luar negeri untuk Biro Urusan Asia Selatan dan Tengah, tiba di Islamabad dalam kunjungan selama satu hari.

Pakistan diwakili oleh Aftab Khoker, sekretaris tambahan dari Kementerian Luar Negeri.

Ini adalah kunjungan Wells yang keempat, beberapa hari setelah Islamabad membebaskan Mullah Abdul Ghani Baradar, mantan wakil kepala Taliban Afghanistan, atas permintaan Washington untuk menghidupkan kembali perundingan perdamaian yang telah lama terhenti.

Diplomat AS itu hanya bertemu Menteri Keuangan Asad Umar.

Perdana Menteri Imran Khan dan Menteri Luar Negeri Shah Mehmood Qureshi tidak menemuinya.

Qureshi memilih untuk berbicara pada konferensi pers di ibu kota tentang kunjungan perdana menteri ke China.

"Pertemuan ini mencerminkan bahwa tidak ada perbaikan atau terobosan dalam hubungan dingin antara kedua pihak," Zafar Nawaz Jaspal, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Quaid-e-Azam yang berbasis di Islamabad, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Tidak ada pernyataan bersama setelah pertemuan tersebut.

"Pembicaraan itu membahas situasi regional yang berkembang, perdamaian dan stabilitas di Afghanistan," menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Pakistan.

Afghanistan telah menjadi rebutan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.

Kebijakan baru Presiden AS Donald Trump untuk Asia Selatan menuduh Pakistan melindungi para militan.

Pakistan membantah tuduhan itu dan menuduh Kabul mengizinkan para militan menggunakan wilayahnya untuk menyerang pasukan keamanan Pakistan dan warga sipil.

Islamabad secara kategoris menolak rencana Washington yang berencana untuk memperluas peran India di Afghanistan.

Pakistan menengahi serangkaian dialog antara pemerintah Afghanistan dan Taliban di Islamabad pada Juli 2015, tetapi proses itu gagal setelah Taliban mengumumkan kematian pemimpin mereka, Mullah Omer, memicu perebutan kekuasaan yang sengit dalam kelompok militan.

Peluang untuk memulai kembali proses yang macet semakin redup menyusul kematian pengganti Mullah Omer, Mullah Mansur, dalam serangan pesawat tanpa awak AS tahun lalu di Pakistan barat daya dekat perbatasan Afghanistan.

Beberapa upaya yang bertujuan untuk memulai kembali proses yang terhenti telah dilakukan sejak Juli 2015 oleh kelompok beranggotakan empat negara yang terdiri dari Pakistan, Afghanistan, AS, dan China tetapi semuanya berakhir dengan kegagalan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA