Apakah Trump sudah sadar untuk memperbaiki hubungan Turki-Amerika?

Bolton tentu marah tentang keputusan Trump atas Suriah, dan segera setelah dia tiba di Israel - dalam perjalanan ke Turki - mulai bertentangan dengan Presiden mengenai PKK.

Apakah Trump sudah sadar untuk memperbaiki hubungan Turki-Amerika?

“Amerika tidak memiliki kemampuan memahami atau melihat siapa kawan sesungguhnya," kata Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu pada 16 Agustus 2018 saat merespons sebuah pertanyaan mengenai komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini soal Turki.

Berbanding terbalik dengan apa yang saya perkirakan, perkembangan berlanjut ke arah yang benar, tambahnya.

Saat ini, semua orang sudah akrab dengan percakapan antara Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Presiden AS Donald Trump pertengahan Desember lalu yang membuat Trump setuju menyerahkan tanggung jawab keamanan di Suriah timur laut ke Ankara.

Minggu-minggu berikutnya terlihat beberapa perubahan pada keputusan asli Trump untuk keluar sesegera mungkin. Alasan utama adalah bahwa pejabat Turki menginginkan penarikan pasukan AS secara terencana dan hati-hati untuk membatasi peluang aktor lain, seperti rezim Damaskus, Rusia, atau kelompok teror PKK/PYD/YPG, mungkin memanfaatkan situasi untuk kepentingan mereka. Permintaan Turki sangat logis dan pembuat kebijakan di AS harus mempertimbangkannya.

Namun Suriah bukan satu-satunya mengalami perkembangan positif. Setelah Tahun Baru lalu, delegasi dari AS mulai mendatangi ke Ankara. Setelah delegasi pertama tiba, kita segera mengetahui bahwa mereka meminta kesaksian dari orang-orang kunci Gulen yang sedang ditahan Turki, dan pemerintah Turki juga memberikan banyak bukti penting terkait dengan upaya kudeta kelompok Gulen yang digagalkan pada Juli 2016.

Biasanya, ini akan menjadi sebuah perkembangan rutin dalam proses peradilan, dan mungkin tidak mengarah pada langkah hukum apa pun untuk mengekstradisi Fethullah Gulen ke Turki. Tapi ini adalah perkembangan penting mengingat apa yang belum terjadi dalam dua setengah tahun terakhir.

Pengumpulan bukti dasar adalah sinyal yang paling transparan sejauh ini untuk menunjukkan bahwa proses peradilan terhadap Gulen mungkin sudah mendekati kenyataan, dan sejauh ini merupakan langkah paling penting yang telah diambil pemerintah AS sehubungan dengan banyak Gulenis yang terlibat dalam upaya kudeta dan mendapat perlindungan. di AS.

Pada titik ini kita hanya dapat terus mengamati dan berharap bahwa proses pengadilan tentang ekstradisi Gulen akan dimulai sesegera mungkin.

Inisiatif Trump

Perkembangan terakhir ini memberi kesan bahwa Trump telah mengambil kendali atas keputusan kebijakan mengenai wilayah Turki jauh dari militer, Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, dan menantu Trump, Jared Kushner.

Sampai Desember, Trump tidak menunjukkan pengaruh atas masalah ini, dan pengaruh Bolton telah mendorong kebijakan luar negeri AS ke arah yang lebih agresif.

Tapi tiba-tiba Trump mengambil inisiatif menjauh dari pasukan militer dan Bolton.

Selama percakapan Trump dengan Erdogan, Bolton dilaporkan ada di sisinya. Trump menolak cara pendekatan Bolton, dan memberi perintah untuk memulai penarikan.

Sekarang, Bolton sedang dalam perjalanan ke Ankara (setelah singgah di Israel) untuk melakukan negosiasi mengenai penarikan AS. Bolton tentu saja marah terkait beberapa perubahan ini, dan begitu dia tiba di Israel, mulai bertentangan dengan Trump mengenai organisasi teror PKK. Ini berarti bahwa setiap gerakan dan pernyataan Bolton harus dicermati secara intens. Kunjungan Bolton juga menghibur jika kita dapat mengamati beberapa teater politik yang dia mainkan. Sebagai antisipasi, cuaca Turki mulai membeku.

Bencana kebijakan luar negeri Obama

Ironisnya adalah bahwa Administrasi Trump membuat keputusan yang seharusnya dibuat oleh Pemerintahan Obama beberapa tahun yang lalu. Meskipun pendahulu Trump memiliki waktu enam bulan setelah upaya kudeta untuk mengambil langkah hukum yang tepat terhadap Gulen dan pengikutnya, sama sekali tidak ada yang dilakukan. Satu-satunya hal yang dicapai Presiden Obama sehubungan dengan hubungan Turki-Amerika dalam bulan-bulan terakhir masa kepresidenannya adalah untuk meyakinkan mayoritas populasi Turki bahwa dia tidak peduli tentang fakta bahwa seorang tokoh yang bertanggung jawab untuk membunuh ratusan warga Turki tinggal di AS, atau dia diam-diam mendukung tokoh tersebut.

Bagaimanapun juga, kebanyakan masyarakat Turki akan mengingat dan mengutuk Obama selamanya. Meskipun dia memulai masa kepresidenannya dengan Istanbul dan Ankara, dan pernah menikmati popularitas di negara itu.

Akibatnya, dari hari ke hari, kebijakan Pemerintahan Obama terhadap Turki dan wilayahnya selama 2012-2016 tampak semakin buruk dan menyesatkan. Memang tidak diragukan juga bahwa Trump memiliki masalah untuk tetap fokus, dilanda segudang masalah politik domestik dan hukum, tidak banyak pengetahuan konkret tentang masalah tertentu, dan sering menggunakan fabrikasi untuk menyajikan versinya tentang dunia. Tetapi dalam kaitannya dengan Turki, pilihannya saat ini (dengan mengabaikan usahanya yang pernah berupaya melumpuhkan ekonomi Turki musim panas lalu) tampaknya lebih baik dibandingkan dengan dilakukan pendahulunya.

Pertanyaan yang harus dihadapi oleh para sejarawan dan ilmuwan politik yang tertarik pada hubungan Turki-Amerika adalah mengapa pilihan kebijakan Obama terhadap Turki begitu salah arah: apakah ini informasi yang buruk? Prasangka? Takut? Disorganisasi? Jika Hillary Clinton dapat memahami bahwa AS perlu bekerja dengan Turki dalam masalah-masalah regional mengapa Barack Obama tidak dapat memahami kenyataan yang sama? Meskipun Hillary Clinton merekomendasikan jalan yang benar, keputusan akhir bukan di tangan dia.

Masalah yang lebih rumit 

Tetapi menyalahkan informasi yang buruk tampaknya sulit ketika menyangkut kebijakan AS. Negara adidaya itu memiliki kapasitas pengumpulan informasi yang canggih, dari satelit mata-mata, hingga akses ke sebagian besar aliran informasi digital dunia, ke lembaga intelijen negara seperti Central Intelligence Agency dan lembaga diplomatik seperti Departemen Luar Negeri. Membayangkan bahwa kurangnya informasi menyebabkan Pemerintahan Obama melakukan kesalahan besar tidak mudah.

Sebagai gantinya, saya menyarankan bahwa interpretasi informasi yang tersedia adalah di mana kesalahan fatal dibuat. Dan yang saya maksudkan dengan "fatal", karena kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan Barack Obama terhadap Suriah dan Turki pada 2012-2014 akhirnya menelan biaya ratusan ribu jiwa. Kecurigaan saya adalah bahwa para pejabat yang ditugasi mengevaluasi informasi yang tersedia dan kemudian merumuskan kebijakan sama sekali tidak memiliki pendidikan, latar belakang, pengalaman, atau kemampuan analitis untuk memastikan seperti apa kebijakan yang seharusnya dibuat.

Tentu saja jika para pejabat itu membaca atau menonton liputan media AS tentang Turki dan Suriah di tahun-tahun itu, mereka akan memiliki sedikit pemahaman tentang esensi situasi atau masalah yang terlibat. Pers internasional sedikit lebih baik. Bagi para pejabat itu untuk memahami, pada saat itu, apa kebijakan AS terhadap Turki yang diperlukan, bukan hanya soal memiliki pemahaman yang kuat tentang apa kepentingan AS. Pemahaman yang kuat tentang transformasi sosial-politik yang terjadi di Turki, dalam semua dimensinya, dan di wilayah yang lebih luas juga diperlukan. Tanpa perspektif yang lebih besar, mereka tidak dapat mendekati informasi yang mereka miliki dengan pandangan jernih. Cara menginterpretasi informasi yang salah dari para pejabat AS, menghasilkan keputusan kebijakan luar negeri Obama yang mengerikan.

Sampai akhir tahun lalu, pemerintahan Presiden Trump menunjukkan perilaku yang sama. Karena alasan itu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, selama serangan Agustus yang dilakukan dengan sengaja terhadap perekonomian Turki, menyatakan dengan sangat jelas bahwa AS tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui siapa teman sejati mereka. Bulan lalu, di sisi lain, kita menyaksikan perkembangan positif secara tiba-tiba.

Sudahkah pejabat AS akhirnya memahami beberapa realitas mendasar yang sebelumnya luput dari kesadaran mereka? Apakah pemerintahan Trump akhirnya melihat yang jelas, bahwa sekutu NATO yang demokratis harus menjadi pilihan logis untuk mempercayai masalah keamanan regional? Dapatkah Trump mengenali penyakit Gulen yang mengganggu hubungan antara kedua negara dan mengambil tindakan yang benar?

Semoga, kami akan segera menyaksikan jawaban positif untuk pertanyaan-pertanyaan ini.

* Opini dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Anadolu Agency.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA