Yang Chil Sung, Sang Pahlawan Garut dari Korea (Bagian II-Habis)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan Senior Garut, Anggota PWI Garut) Pasukan Pangeran Papak dan Hisbulloh pimpinan alm. KH Yusuf Taoziri yang kharismatik, membentengi perkotaan Garut dari serbuan Belanda. Setiap digempur musuh, pasukan kami tidak pern

Yang Chil Sung, Sang Pahlawan Garut dari Korea (Bagian II-Habis)

Oleh: Yoyo Dasriyo (Wartawan Senior Garut, Anggota PWI Garut) Pasukan “Pangeran Papak” dan Hisbulloh pimpinan alm. KH Yusuf Taoziri yang kharismatik, membentengi perkotaan Garut dari serbuan Belanda. “Setiap digempur musuh, pasukan kami tidak pernah tertangkap” kenang R Djuhana. Itu yang menyulut aksi Belanda mengerahkan kekuatan tempurnya hingga 4,5 batalyon, untuk menyerang pasukan Pangeran Papak yang hanya berkekuatan kurang dari satu batalyon. Pasukan gerilya pun terpaksa mundur. Belanda menyebarkan mata-mata. Mereka mengintai pasukan gerilya itu, hingga Djuhana, Komarudin, Abubakar dan Usman tertangkap. “Saya masih ingat benar, waktu Komarudin ditawan Belanda itu lewat tengah malam, sekitar pukul 01.30” kata H Ajiji. Dalam kesempatan terpisah, RS Harisenjaya yang pernah berdomisili di Kp Paminggir, dekat TPU Pasir Pogor Garut menuturkan, menjelang hukuman mati itu seorang petugas sipir dari rumah penjara Garut menjemput Lebe (penghulu). Ketiga serdadu Jepang yang dijumpai Lebe selepas Maghrib itu, diketahui mengenakan kampret putih dan kain sarung Cap “Padi” warna merah buatan Preanger Bond Wevery (PBW), yang dikenal kemudian sebagai Pabrik Tenun Garut (PTG). Dua warna dalam penampilan ketiga terhukum itu, seolah simbol bendera Merah Putih. Mereka menyampaikan permintaan terakhir, agar esok hari setelah hukuman mati, jenazah mereka dimakamkan secara Islam. Putaran detik jelang hukuman mati digelar,seakan bergulir lebih cepat dan memanggang ketegangan para pejuang. Suasana itu berpuncak pada pagi Pkl 06.00, saat rentetan tembakan terdengar memecah kesepian dari arah Lapang “Kherkoff”, di seberang Sungai Cimanuk. Warga Kampung Pasir Pogor, lalu melihat tiga keranda berisi jenazah, yang masih terbungkus kampret putih dan sarung merah Cap Padi. Keranda beriringan diusung ke masjid setempat. Saat-saat eksekusi berlangsung, R. Djuhana mengaku tengah menjalani hukuman seumur hidup di LP Cipinang, Jakarta. Sebaliknya, Eddy Jawan anak tunggal Yang Chil Sung, karyawan MKL Jakarta, baru mengetahui nasib dan kepahlawanan ayahnya, setelah berumur 18 tahun. “Waktu ayah saya ditembak mati, saya baru berumur satu tahun” kata Eddy Jawan, waktu menghadiri acara pergantian batu nisan almarhum ayahnya. Usia 3 tahun, Eddy diantar Bik Koyoh yang merawatnya sejak kecil, ke lokasi makam Yang Chil Sung di TPU Pasir Pogor. Eddy mengaku tak pernah tahu lagi nasib Bik Koyoh, yang membesarkannya di Wanaraja, Garut, sampai usia 20 tahun. Wanita itu pengganti figur ibunya, alm. Ny Lience Wenas, asal Sulawesi, yang menikah lagi di Bandung. Siapa sangka, jika drama kehidupan di balik kepahlawanan serdadu Korea itu, tergelar di tanah Garut. Kejuangan alm. Komarudin alias Yang Chil Sung, Abubakar dan Usman dihargai sebagai pahlawan kemerdekaan Indonesia. Bukti atas penghargaan itu berupa pemindahan kerangka jenazah mereka dari TPU Pasir Pogor, ke TMP Tenjolaya,19 November 1975. Kehormatan untuk kepahlawanan itu dikuatkan lagi dengan pergantian batu nisan, yang disaksikan Eddy Jawan, Choi Gye Wol (Pemimpin Kodeco Group), 20 anggota keluarga Yang Chil Sung dari Korea, dan staf Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia. Kini, nama Yang Chil Sung terukir pada batu nisan Komarudin. Saat acara pergantian batu nisan, Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI Tayo Tarmadi, dalam sambutan tertulisnya menilai, kejuangan Komarudin cermin bening dan realistis dalam menumpas penjajah dan penindasan, yang mampu melintas batas lautan. Komarudin pantas mewarnai sejarah perjuangan kemerdekaan. Puncak pengorbanan serdadu Korea itu, tersimpan di dalam perut bumi Garut. (**)    

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA