RA Lasminingrat Tokoh Perempuan Intelektual Pertama Sebelum RA Kartini dan Dewi Sartika

Dua kali Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut Jawa Barat, mengusulkan Raden Ayu Lasminingrat agar bisa dijadikan Pahlawan Nasional. Yakni, pada tahun 2006 dan 2009. caption id attachment 121869 align aligncenter width 638 RA Lasminingrat foto is

RA Lasminingrat Tokoh Perempuan Intelektual Pertama Sebelum RA Kartini dan Dewi Sartika

GARUT,FOKUSJabar.com: Dua kali Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut Jawa Barat, mengusulkan Raden Ayu Lasminingrat agar bisa dijadikan Pahlawan Nasional. Yakni, pada tahun 2006 dan 2009. [caption id="attachment_121869" align="aligncenter" width="638"] RA Lasminingrat foto istimewa (Foto: bambang F)[/caption] Namun pengajuan tersebut nampaknya masih belum dikabulkan. Padahal, sosok RA Lasminingrat sebenarnya cukup layak. Betapa tidak, dia merupakan salah satu tokoh perempuan yang berjuang di bidang pendidikan sekaligus representasi kaum perempuan dalam memperjuangankan kesetaraan gender yang pada zamannya masih tertinggal. Terlebih dia juga dianggap sebagai tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia jauh sebelum lahir RA Kartini tahun 1879 dan Dewi Sartika tahun 1884, karena RA Lasminingrat dilahirkan tahun 1843 dari pasangan Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria, seorang penghulu sekaligus sastrawan sunda. Kini harapan tersebut kembali bergema dari sejumlah kalangan masyarakat Garut. Mereka berharap Pemkab dibawah komando Rudy Gunawan bisa memperjuangkan istri dari Rd. Adipati Aria Wiratanudatar VIII (Bupati Garut ke-4) menjadi pahlawan nasional. Rani Permata istri tercinta Diky Chandra, mantan wakil bupati Garut menyebut, harapan itu tinggal satu kali kesempatan lagi. Karena pengajuan menjadi pahlawan nasional itu hanya bisa dilakukan sebanyak tiga kali. “ Jika usulan pengajuan yang akan kita lakukan saat ini gagal. Maka pupuslah semua angan dan harapan seluruh masyarakat Garut,” ujar  Produser Pelaksana FTV berjudul Hidayah Untuk Suami Tercinta melalui BlackBerry Messenger, Senin (20/4/2015). Menurut Rani, sejak kecil (RA Lasminingrat) dididik seorang guru berkebangsaan Belanda, Levyson Norman yang tiada lain sahabat dari ayahandanya. Selama beberapa tahun dia menimba ilmu di Kabupaten Sumedang hingga menguasai bahasa Belanda dengan baik. “ Beliau adalah seorang perempuan dari kelompok pertama di Indonesia yang menerima pendidikan Barat. Setelah menginjak remaja di peristri bupati Garut (saat itu bupati Limbangan) R Arya Wiratanudatar VIII,” paparnya. RA Lasminingrat bisa dikatakan sebagai perintis pendidikan yang telah memperjuangkan para kaum perempuan khususnya di kota Intan dengan membangun sekolah “ Kautamaan Istri “ di ruang Gamelan Pendopo Garut sekitar tahun 1907. Selanjutnya tahun 1911 sekolah tersebut pindah  ke Jalan Ranggalawe. Saat itu, tersedia 5 kelas dengan jumlah anak didik mencapai 200 orang. Sayangnya, dalam banyak hal Lasminingrat luput dari publikasi. Tahun 1879 mendidik anak-anak melalui buku bacaan berbahasa sunda, pendidikan moral, agama, ilmu alam, psikologi dan sosiologi. Dia sisipkan dalam cerita yang disadur dari bahasa asing yang disesuaikan dengan kultur sunda dan bahasa yg mudah dimengerti. Buku-buku buah tangannya yakni, Carita Erman, Warnasari jilid 1 (1876) dan Warnasari jilid 2 (1887). Buku untuk anak sekolah tersebut diterbitkan tahun 1875 dengan judul “Tjarita Erman ” merupakan terjemahan dari Christoph von Schmid. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar. Lalu mengalami cetak ulang pada 1911 dalam aksara Jawa dan 1922 menggunakan aksara Latin. Selanjutnya tahun 1919 diterjemahkan ke dalam bahasa melayu oleh M.S Cakrabangsa. Melalui karya - karyanya telah mampu mempengaruhi banyak pembacanya dan mendorong warga masyarakat untuk “ melek huruf latin.” Terlebih berdampak yang begitu luar biasa yakni telah berhasil mempengaruhi kaum perempuan di zamannya untuk mengikuti jejaknya menuju kesetaraan gender, melakukan pekerjaan yang sebelumnya tidak dilakukan oleh kaum perempuan. Seperti, menjahit, merangkai bunga dan menjadi perempuan binangkit yang tidak hanya mengandalkan uang suami untuk bertahan hidup. “ Tidak salah jika beliau dijuluki pahlawan perempuan intelektual pertama Indonesia," ungkap Rani. Semasa Diky Chandra suaminya menjadi wakil bupati, usulan tersebut hasilnya masih dipending. Karena waktu itu, kekurangan buku akademis yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. “ Mari kita bersama-sama melanjutkan perjuangan ini. Semoga menemukan jalan yang baik bersama orang-orang yang punya kepedulian akan pentingnya arti sejarah. Makam beliau berada di sebelah Mesjid Agung Garut, meninggal pada 10 April 1948 diusianya yang ke-105,” pungkas Rani Permata. (Bambang Fouristian/DEN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA