PLTMH Cibuluh Beraroma Korupsi, Kejari Tahan Tiga Tersangka

CIAMIS, FOKUSJabar Kejaksaan Negeri (Kejari) Ciamis mencium aroma indikasi korupsi pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Dusun Cibuluh, Desa Harumandala, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran. Kepala Seksi Pidana K

PLTMH Cibuluh Beraroma Korupsi, Kejari Tahan Tiga Tersangka

CIAMIS, FOKUSJabar : Kejaksaan Negeri (Kejari) Ciamis mencium aroma indikasi korupsi pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Dusun Cibuluh, Desa Harumandala, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran. Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Ciamis, Priyambudi bersama Kepala Seksi Intelejen Dance kepada wartawan memaparkan, proyek PLTMH yang dibangun pada tahun anggaran 2012 dilaporkan tidak berfungsi dan termanfaatkan masyarakat, dan diduga terdapat ketidaksesuaian pengerjaan proyek dengan spek dan aturan yang berlaku. [caption id="attachment_150736" align="aligncenter" width="638"] Kasi Pidsus Kejari Ciamis Pryambudi (kiri) bersama Kasi Intelejen Danceu, paparkan kasus Proyek PLTMH Cibuluh, kepada wartawan pada Ghatering Pers Kejari, Senin (03/08/2015). Foto:Riza/fokusjabar.com[/caption] Kejari Ciamis telah menetapkan tiga tersangka dan tiga tersangka tersebut ditahan Kejari Ciamis pada Kamis 31 Juli 2015. "Kami menemukan ada potensi kerugian negara pada proyek tersebut, dan terhadap tiga tersangka yang ditetapkan sudah dilakukan penahanan di Rutan Ciamis, setelah diperiksa selama kurang lebh delapan jam, " ujar Priyambudi, pada Gathering Pers Kejari di Aula Kantor Kejari Ciamis, Senin (03/08/2015). Ketiga tersangka yang ditahan yakni Acep Sutrisno selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek PLTMH Cibuluh, Deni Akbar selaku Direktur Utama PT Portal Sejati Utama dan Bagus Sutomo sebagai Projec Manager PT Portal Sejati Utama. Proses penanganan perkara tersebut dimulai pada awal thun 2015. Tim Kejari melakukan pengumpulan data dan keterangan, lalu melakukan penyelidikan, setelah dirasa cukup bukti dilakukan ekspose, meningkat ke penyidikan, dan melakukan penajaman dengan mengumpulkan alat bukti serta 20 saksi. "Kami menurunkan tim ahli dari ITB Bandung bidang pengairan dan kelistrikan dan tim ahli Politeknik Bandung untuk teknik sipilnya, dari keterangan ahli, ditemukan kekurangan volume, ketidaksesuaian fakta di lapangan dengan spek dan RAB, setelah dikonversi ke rupiah, terdapat potensi kerugian negara, " papar Priyambudi. Di lapangan tim menemukan ada fisik beton bendungan PLTMH di saluran Sungai Cimandala yang rapuh hanya diketuk oleh tangan. Padahal seharusnya dipalu pakai gadam pun kontruksinya harus kuat. "Itu mengelupas, ada juga tambah kurang yang tidak disertai adendum. Serta lokasi pengerjaan dipindah tanpa perencaaan ulang. Ditaksi kerugian negara mencapai Rp200 juta, " tambahnya. Kejari masih melakukan pengembangan dan penajaman terhadap perkara tersebut, dan bila terdapat hal-hal baru dan petunjuk-petunjuk baru, sangat memungkinkan terdapat tersangka baru. (Den)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA