“Luka Sejarah” Kepemimpinan Daerah di Garut (Bagian II-Habis)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior Garut, Anggota PWI Garut) Terkabar, Bupati Garut (alm) RM Bob Yacob Ishak SH yang bertugas sejak tahun 1967 itu, mendadak harus diberhentikan di jelang akhir masa baktinya. Masa kepemimpinan daerah Garut kembali ter

“Luka Sejarah” Kepemimpinan Daerah di Garut (Bagian II-Habis)

Oleh: Yoyo Dasriyo (Wartawan senior Garut, Anggota PWI Garut) Terkabar, Bupati Garut (alm) RM Bob Yacob Ishak SH yang bertugas sejak tahun 1967 itu, mendadak harus diberhentikan di jelang akhir masa baktinya. Masa kepemimpinan daerah Garut kembali “terluka”! “Kasusnya tidak pernah diketahui masyarakat! Semua wartawan di Garut pun hanya tahu, bahwa ‘Pak Bob sakit, dan tidak memungkinkan lagi meneruskan jabatannya” cerita Yus Suhata, suatu malam di rumahnya. Para Muspida Garut yang mengetahui latar kejutan peristiwa itu, sepakat pula untuk  merahasiakan ‘penyakit’ Bupati Garut. Langkah itu ditempuh, sebagai upaya menjaga citra kepala daerah, sekaligus menenteramkan kondisi Garut. Berita di media cetak pun terkendali. Terdukung pula dengan keberadaan insan pers media cetak di CWG (Corps Wartawan Garut), yang hanya 11 orang. Itu lembaga profesi cikal-bakal PWI Perwakilan Kab Garut, sewaktu saya masih jadi “anak bawang”! Dalam kondisi seperti itu, berita seputar “misteri” penyakit Bupati Garut, tak pernah mengemuka. Para wartawan merasa riskan dianggap mengumbar “aib”! Namun tak urung pula, kerahasiaan itu “melukai” sejarah kepemimpinan daerah di Kab Garut. Terlebih, setelah rahasia itu mengembangkan bisik-bisik sumbang, tentang penyakit sang bupati! Pelaksana tugas Bupati Garut, beralih ke Drs Syamsudin, selama satu tahun (1973), hingga berlanjut dalam kepemimpinan (alm) Ir Hasan Wirahadikusumah (1973-1978). Kesaksian sejarah masa lampau menegaskan, desakkan masyarakat untuk menurunkan Aceng HM Fikry S.Ag dari jabatan Bupati Garut, bukan kebaruan peristiwa dalam riwayat kepemimpinan daerah ini. Dalam estafet para bupati yang bertugas di Kab Garut, Aceng Fikry terhitung sebagai bupati ke-25, sejak nama (alm) R Aria Adipati Adiwidjaya (1813-1831). Namun bertolak dari pemerintahan Kab Garut, yang dibentuk atas pembubaran Kab Limbangan, Aceng Fikry tercatat sebagai bupati ke-18, sepeninggal Bupati Garut pertama RA Soeria Kartalegawa (1915-1929). Kakek aktor film legendaris (alm) Dicky Zulkarnaen, suami aktris film Mieke Widjaya.   [caption id="attachment_7396" align="aligncenter" width="300"] Bupati Garut (alm) RA Soeria Kartalegawa (1915–1929). Dihitung sejak Garut berpindah dari Limbangan, kakek aktor film (alm) Dicky Zulkarnaen itu tercatat sebagai Bupati Kab Garut pertama. (Dokumentasi)[/caption]   Di luar peristiwa “ulang” luka sejarah, Garut pun membukukan keunikan dalam perpanjangan jabatan bupati. Meski belum pernah terjadi jabatan Bupati Garut untuk dua periode, tetapi jabatan H Taufik Hidayat (1983-1988) “diperpanjang” dengan bertugas jadi Bupati Ciamis. Sebaliknya, (alm) H Momon Gandasasmita SH yang mengakhiri tugas Bupati Ciamis, menggantikan H Taufik Hidayat di Garut (1988-1993). “Barter” jabatan bupati itu, memang peristiwa langka. Kini, kiprah kepemimpinan Aceng Fikry berlagu sumbang, justru tergelar jelang momentum dua abad Garut, awal tahun depan. Kasus nikah siri sang Bupati Garut, menghangat di berbagai media massa. Jauh lebih “booming” dibanding peluncuran film “Perkawinan Dalam Semusim” (1977). Karya sutradara besar, yang bernasib muram di pasar film negeri ini. Sangat disesalkan, citra Bupati Garut di “Kota Intan”, tak sebening intan. Garutku Sayang, Garutku Malang. Penantian panjang untuk pencitraan daerah Tata Tengtrem Kerta Raharja, makin mengabur jauh. Jatuh bangun masih saja merintang di ambang langkah. Namun semangat kejuangan membangun Garut, jangan pernah padam karena “luka” kepemimpinan daerah! (**)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA