Peduli Nenek Asyani, HMI Bandung Gelar Aksi Senyap

Nenek Asyani, 63 tahun, terdakwa kasus pencurian 38 papan kayu jati, di Situbondo Jawa Timur, menyentuh nurani mahasiswa anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Bandung Jawa Barat. caption id attachment 117504 align aligncenter w

Peduli Nenek Asyani, HMI Bandung Gelar Aksi Senyap

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Nenek Asyani, 63 tahun, terdakwa kasus pencurian 38 papan kayu jati, di Situbondo Jawa Timur, menyentuh nurani mahasiswa anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Bandung Jawa Barat. [caption id="attachment_117504" align="aligncenter" width="638"] Sebagian masa aksi membentangkan spanduk bertuliskan "Bebaskan Nenek Asyani". (Foto: Anan)[/caption] Merasa prihatin dengan proses hukum yang diperlakukan kepada Nenek Asyani, HMI Komisariat Syariah dan Hukum Cabang Kabupaten Bandung menggelar aksi senyap di Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung Jawa Barat, Selasa (31/3/2015). Dalam aksi senyap itu mereka membentang spanduk bertuliskan "Bebaskan Nenek Asyani". Koordinator Aksi Ahmad Nashirudin mengatakan, Khalifah Umar RA, pernah membebaskan seorang miskin yang mengambil buah yang jatuh di jalan. Sebaliknya ia justru menghukum orang kaya yang melaporkan hal tersebut. Namun dalam kasus Nenek Asyani proses hukum terjadi sebaliknya. Ia prihatin terhadap penegakan hukum di Indonesia ini, "Nenek Asyani merupakan bagian dari kelompok masyarakat paling lemah yang sering menjadi korban penegak hukum," ujar Ahmad Nashirudin. Ia menambahkan, masih banyak contoh yang menjadi korban dalam kesalahan penegakan hukum di Indonesia, seperti kasus nenek Minah yang dihukum karena dituduh mencuri tiga butir buah kakao, kakek Rawi yang dihukum karena mencuri 50 gram merica, dan masih banyak lagi. Dalam aksi ini, masa menuntut agar nenek Asyani segera dibebaskan dan mendapat perlakuan sebagai masyarakat tidak mampu, yang seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah. "Seperti yang kita tau, hukum itu dibuat untuk manusia, tapi tidak untuk menistakan manusia," tutup Ahmad Nasyirudin. (Anan / DEN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA