FFI 2014 Palembang Jangan Lagi Persaingkan Pemeran Berbeda Usia (2)

Palembang, FokusJabar.com FFI 1979 berakhir dengan keunikan Dewab juri seolah membagi Piala Citra untuk film film unggulan itu. Film November 1828 dipilih sebagai Film Terbaik, dan melahirkan Sutradara Terbaik (Teguh Karya). Tetapi Aktor Akt

FFI 2014 Palembang Jangan Lagi Persaingkan Pemeran Berbeda Usia (2)

Palembang, FokusJabar.com: FFI 1979 berakhir dengan keunikan! Dewab juri seolah “membagi” Piala Citra untuk film-film unggulan itu. Film “November 1828” dipilih sebagai Film Terbaik, dan melahirkan Sutradara Terbaik (Teguh Karya). Tetapi Aktor/Aktris Terbaik terpilih (alm) Soekarno M Noor dari film “Kemelut Hidup” (Drs. H Asrul Sani), dan Christine Hakim dari film “Pengemis Dan Tukang Becak” (Wim Umboh). Aktor/Aktris Pendukung Utama Terbaik dimenangi El-Manik (film “November 1928”), dan (alm) Chitra Dewi dari film “Guna-Guna Isteri Muda” (alm. Wahyu Sihombing). Harus diakui, keragaman film pemenang Piala Citra di FFI 1979 Palembang, jadi “keputusan langka” sepanjang FFI. Bahkan gelar Aktor/Aktris Harapan pun kembali dianugerahkan. Alan Nuary (film “Pengemis Dan Tukang Becak”), dan Nur’afni Oktavia yang tampil memikat di film “Pulau Cinta” karya Ali Shahab, dinilai layak mendapat gelar tersebut.  Bukti peringkat nominasi memberi gengsi tersendiri, diungkapkan Deden Bagaskara - ayah Salma Paramitha, saat nama anak gadisnya terjaring ke dalam nominasi Aktris Terbaik FFI 2011.dari film “Rindu Purnama” karya Mathias Muchus. “Saya bangga dan bersyukur.. Semoga dengan masuk nominasi itu, bisa memberi arti dan pengalaman baru bagi karier anak saya” tutur Deden suatu malam melalui telepon. Sangat disesalkan, Salma yang saat itu baru duduk di SMP, dipersaingkan berebut Piala Citra dengan Dinda Hauw ('Surat Kecil untuk Tuhan”), Fanny Fabriana (“True Love”), Gita Novalista (“The Mirror Never Lies”), dan Prisia Nasution dari film “Sang Penari”. [caption id="attachment_98852" align="aligncenter" width="468"] Salma Paramitha dalam film “Rindu Purnama” karya Mathias Muchus. Kekuatan akting Salma dalam film itu, dipersaingkan dengan sederet artis yang lebih senior dalam FFI 2011, dengan menjayakan Prisia Nasution dari film “Sang Penari”.(Foto: IST)[/caption] FFI 2011 pun menominasikan aktor terbaik Emir Mahira, (film “Rumah Tanpa Jendela”) di antara Alex Komang (film 'Surat Kecil untuk Tuhan'), Ferdy Tahier (film 'Masih Bukan Cinta Biasa'). Oka Antara (film 'Sang Penari') serta Tio Pakusadewo dari film 'Tebus'  Beruntung, Emir Mahira lolos jadi Aktor Terbaik  Tetapi penominasian Aktris Terbaik FFI 2011 merugikan Salma Paramitha yang harus tersisish kemenangan Prisia Nasution. Nominasi di FFI 2011 kategori tersebut terasa dipaksakan. Sebaiknya, tngkat perbedaan usia pemeran jadi perhitungan dewan juri, dengan membuka kategori lain. Idealnya, Emir Mahira dan Salma Paramitha menempati peringkat aktor/aktris pendatang baru terbaik atau akris/aktris harapan terbaik, yang sekian lama gelar itu hilang di festival. Ingat lagi di FFI 1981 Surabaya, yang pernah memilih Adi Kurdi sebagai Aktor Pendatang Baru Penuh Harapan” dari film “Gadis Penakluk” (Edward Pesta Sirait), saat gelar Aktor Terbaik bergulir ke (alm) Maruli Sitompul di film “Laki-Laki Dari Nusakambangan” karya Subiyanto. Peristiwa mundurnya aktor (alm) WD Mochtar dari nominasi Aktor Terbaik atas film “Roro Mendut”,di FFI 1980 Semarang, mestinya jadi pembelajaran untuk tidak lagi mempersaingkan pemain unggulan berbeda usia. Kemunduran WD Mochtar amat realistis, karena almarhum merasa dipersaingkan dengan aktor cilik. Lucunya, sportifitas WD Mochtar, disikapi keputusan juri dengan memupus pencalonan aktor terbaik. FFI 1979 Palembang, mamang momentum historis dari pemberlakuan sistem nominasi, yang kini menyatu dalam kelangsungan FFI. Tetapi dalam sejarah perjalanannya, nominasi tak selalu diperankan sebagai jaringan untuk menetapkan pemenang. Keputusan dewan juri lalu menuai heboh, ketika dari nominasi di FFI 1980 Semarang dan FFI 1984 Yogyakarta, berbuah vonis Tidak Ada Aktor Terbaik dan Tidak Ada Film Terbaik, “Kalau sudah ada nominasi, idealnya mesti ada dong yang terpilih..” begitu pernah ditanggapi (alm) H. Misbach Yusa Biran selepas FFI 1984 di Hotel “Garuda” Yogyakarta. .Apa arti sistem nominasi, andai tidak diperankan untuk memilih?. Citra nominasi di Festival Film Indonesia pun dimungkinkan jadi lelucon tidak lucu, kalau FFI sepakat melahirkan film terbaik di luar nominasi. Semoga dengan kembali ke Palembang, kota sejarah pemberlakuan nominasi di FFI, bisa membenahi dan menegakkan lagi martabat peringkat nominasi  ***(Habis) (Yoyo Dasriyo)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA