Mati dan mengalum, nasib museum kini

Dalam sehari, hanya satu dua orang saja yang mendatangi Museum M. H. Thamrin di Senen, Jakarta Pusat. Bahkan pernah selama beberapa hari tak ada pengunjung sama sekali

0
18

JAKARTA

Dari luar, rumah kuno yang diubah menjadi museum satu lantai itu tampak sepi pengunjung.

Masuk ke dalamnya, terdengar dendang lagu Betawi diputar dengan pengeras suara. Tak terlalu keras alunannya, karena derap langkah kaki hilir mudik beberapa petugas museum masih terdengar bergema.

Para petugas itu membersihkan lantai dan benda-benda koleksi yang tersimpan di Museum M. H. Thamrin; radio, foto-foto, dan mebel lawas peninggalan Mohammad Hoesni Thamrin (1894-1941), tokoh nasional berdarah Betawi yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil di Batavia – sebutan Jakarta sebelum kemerdekaan.

Nama pahlawan nasional ini mungkin familier karena ditahbiskan sebagai salah satu nama jalan utama paling sibuk di ibu kota, tapi tak begitu halnya dengan museum pencatat sejarah perjuangannya.

Tersembunyi dalam sempitnya Jalan Kenari II nomor 15, Kenari, Senen, Jakarta Pusat, gedung Museum M. H. Thamrin yang diresmikan pada 1986 itu seolah saru dalam permukiman padat penduduk.

Ketika Anadolu Agency mendatangi museum M. H. Thamrin, tak ada pengunjung lain di ruang pamer. Menurut petugas, dalam sehari hanya 1-2 orang yang datang, bahkan pernah selama beberapa hari tidak ada pengunjung sama sekali.

Masih di kawasan Jakarta Pusat tepatnya di Jalan Menteng Raya nomor 31, Kebon Sirih, Menteng, Museum Joang 45 tak kalah lengang.

Yang terasa hanya nuansa khas Belanda yang kental pada bangunan yang merupakan bekas hotel era kolonial yang dibangun pada 1938 silam.

Sebelum resmi menjadi museum pada 1974, hotel itu dikuasai oleh tentara Jepang. Para pemuda pejuang kemerdekaan merebutnya menjelang 1945 dan dijadikan markas pergerakan melawan penjajah.

Di usianya yang ke-44 tahun, Museum Joang 45 tidak lagi diramaikan oleh pemuda pejuang seperti dulu.

Dalam sehari, hanya ada sekitar 20 orang yang datang meski angka ini meningkat pesat saat ada rombongan sekolah yang berstudi wisata ke sini.

Bukti perjuangan kala itu seperti seragam para pemuda yang dulu ikut bertempur, pisau dan belati, bahkan seragam tentara Jepang beserta pedang samurainya terdiam di balik lemari kaca, hanya berperan sebagai saksi bisu yang membisu dalam waktu.

Bergeser ke Jakarta Utara, Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan nomor 1, Penjaringan, yang terkenal akan koleksi kapal modern dan tradisional serta benda kemaritimannya mungkin masih bernasib lebih baik dibanding dua museum tadi.

Pada musim libur sekolah maupun akhir pekan, museum yang dulunya merupakan gudang bekas penyimpanan rempah dan hasil bumi milik perusahaan Belanda Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang dibangun pada 1652-1771 ini bisa menyedot lebih dari 150 pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri.

Tapi di hari biasa atau bukan musim liburan, jumlahnya terjun menjadi sekitar 30 orang saja.

Lokasi tak strategis

Sejumlah hal dituduh menjadi penyebab sepinya museum, terutama terkait dengan lokasi, dana, dan promosi.

Kepala Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta (mencakup Museum Joang 45, Museum Prasasti, Museum M. H. Thamrin, dan Museum Sejarah Jakarta) yang juga menjabat sebagai Pelaksana Harian Kepala Unit Pengelola Museum Bahari, Sri Kusumawati, beranggapan bahwa ketiga museum sepi karena lokasinya kurang strategis.

“Itu bisa jadi karena posisinya,” kata wanita yang akrab disapa Ati ini.

“Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua misalnya bisa dikunjungi oleh lebih dari 1.000 orang per hari saat hari kerja karena akses ke Kota Tua gampang. Orang yang tadinya ke sana untuk duduk-duduk di Taman Fatahillah, ketika melihat ada beberapa museum di sana, jadi tertarik mau masuk,” ungkap Ati.

Museum M. H. Thamrin, Museum Joang 45, dan Museum Bahari memang tidak masuk ke dalam kawasan wisata seperti di Kota Tua.

Di sisi lain, sebut dia lagi, untuk empat museum yang tergabung dalam Museum Kesejarahan Jakarta, dana yang dibutuhkan per tahunnya ialah sekitar Rp20 miliar.

Jumlah ini digunakan untuk kepentingan operasional, perawatan gedung dan benda koleksi, tata pamer, gaji karyawan, dan sebagainya.

Rp20 miliar itu dibagi-bagi untuk Museum Joang 45, Museum Prasasti, Museum M. H. Thamrin, dan Museum Sejarah Jakarta, namun tidak dibagi sama rata per museumnya.

“Pembagiannya tergantung. Yang jelas gedung museum yang lebih tua membutuhkan biaya perawatan yang lebih besar. Kalau ada museum yang membuat tata pamer baru, dana yang diberikan juga bisa lebih besar,” jelas Ati.

Selain itu, walau museum dituding kurang melakukan promosi sehingga berujung pada sedikitnya jumlah pengunjung, Ati mengatakan bahwa ketiga museum sudah menggunakan media sosial untuk mempromosikan tempatnya.

“Lewat Instagram, Facebook, Twitter. Seperti itu,” tukas Ati.

Namun, dia tetap beranggapan bahwa lokasi menentukan prestasi.

“Museum yang lokasinya mudah dijangkau lebih banyak pengunjungnya dibandingkan yang sulit dijangkau, meski dana dan promosinya gencar sekalipun,” tandas Ati.

Komunitas yang kreatif

Salah satu komunitas pencinta sejarah dan museum seperti Komunitas Jelajah Budaya (KJB) justru lebih kreatif dalam menghidupkan museum.

Dibentuk pada 2003, salah satu kegiatan menarik KJB yang melibatkan museum ialah kegiatan ekskavasi arkeologi yang diikuti oleh anggota komunitas pada November 2016 ketika komunitas sedang berwisata ke luar Jakarta, tepatnya ke situs sejarah Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

“Jadi kita adakan di ruang terbuka. Kita siapkan area sekitar 2 x 2 meter dan kita kubur sejumlah potongan barang dengan menggunakan pasir. Lalu para anggota menggali dan mencari potongan benda tersebut sambil kita ajarkan cara melakukan ekskavasi yang tepat itu seperti apa,” jelas Ketua KJB Kartum Setiawan.

Adapun potongan barang yang dikubur merupakan replika buatan komunitas sendiri yang meniru artefak kuno, seperti guci atau benda-benda gerabah lainnya.

Tak hanya itu, para anggota pun membersihkan “temuan” mereka dengan menggunakan kuas, mengidentifikasinya, lalu meregistrasikannya layaknya arkeolog sungguhan.

Anggota juga diajak mengunjungi situs-situs bersejarah di kawasan tersebut seperti Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, dan Museum Trowulan.

“Kegiatan yang menarik seperti itu diperlukan supaya orang mau datang ke museum. Museum harus bisa menampilkan sesuatu yang booming supaya bisa jadi daya tarik,” tutup Kartum.

There are no comments yet