Petugas Terus Cari Dua Jemaah Haji Indonesia yang Hilang

0
2560
Petugas Terus Cari Dua Jemaah Haji Indonesia yang Hilang (prfm)

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Kabid Perlindungan Jemaah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kolonel Jaetul Muchlis mengatakan, operasional haji di Makkah hampir usai dan 11 kloter terakhir diberangkatkan dari Makkah menuju Madinah pada 26 September 2017. Sementara itu, masih ada dua jemaah haji Indonesia yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya.

Jaetul menegaskan, pihaknya masih terus melakukan pencarian terhadap dua orang jemaah haji Indonesia yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Dua jemaah tersebut adalah Atim Arta Ota (62), asal Bogor, Jawa Barat yang belum diketahui keberadaannya sejak 15 Agustus 2017. Atim terpisah dari rombongannya, kelompok terbang (kloter) embarkasi 56 Jakarta-Bekasi (JKS 56) saat beribadah di Masjidil Haram.

Jemaah kedua adalah Hadi Sukma Adsani (73), asal Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Hadi belum diketahui keberadaannya sejak tanggal 2 September 2017. Saat itu, jemaah kloter 37 embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 37) ini diketahui keberadaannya ketika mabit (bermalam) di Mina untuk melempar jumrah.

Menurut Jaetul, pencarian dilakukan oleh tim gabungan dari unsur perlindungan jemaah (Linjam) dan personel lain di Daker Makkah sejak pertama kali adanya laporan. Pencarian diawali dari titik yang dilaporkan rombongan, yaitu Masjidil Haram serta Jamarat dan Mina. Karena belum ditemukan, pencarian dilanjutkan pada fase Armina hingga sekarang.

“Hari ini, kami kembali ke lapangan untuk melakukan pencarian,” terang Jaetul di Makkah, dirilis laman resmi Kemenag, mengutip PRFM, Selasa (26/5/2017).

“Kami telah berkoordinasi dengan Kantor Kepolisian Arab Saudi, baik yang di Haram maupun Mina, seluruh Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS), Kantor Imigrasi, Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi, Muasasah dan berbagai pihak-pihak yang terkait. Kita minta bantuannya dalam proses pencarian para jemaah yang belum diketahui keberadaanya,” lanjut Jaetul.

Jaetul menjelaskan, untuk memudahkan pencarian, proses telah dibagi dalam beberapa zona atau klaster. Di RSAS misalnya, tim tidak hanya focus pada jemaah (pasien) yang ada identitasnya melainkan pasien-pasien yang tidak ada identitasnya (majhul), baik yang sedang dirawat maupun yang ada di kamar jenazah. Bahkan, tim juga sudah menyisir tempat tahanan karena kawatir yang bersangkutan dibawa pihak berwajib karena persoalan hokum.

“Kami juga menyisir gunung-gunung mengingat dalam keterangan/informasi para keluarga kedua jemaah tersebut memiliki riwayat dimensia yang ingin pergi ke gunung dan menanam jagung seperti di kampung halamannya,” ujarnya.

(Vetra)

There are no comments yet