Perangkat Murah Bisa Dorong Percepatan Migrasi 2G ke 4G 

0
489
Perangkat Murah Bisa Dorong Percepatan Migrasi 2G ke 4G. (FOKUSJabar/Ageng)

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Proses migrasi pengguna jaringan 2G ke jaringan 4G diprediksi masih harus melalui jalan yang cukup panjang. Masalah terbesar yang dihadapi saat ini, masih banyaknya pengguna yang memakai jaringan 2G di Indonesia.

Dosen PENS dan Pengamat Telekomunikasi, Mastel Institute, Nonot Harsono menuturkan, untuk menyikapi kemajuan teknologi seluler dari 2G, 3G, hingga 4G, harus dimulai dengan melihat permasalahan yang dihadapi di lapangan pada saat mau mengambil langkah kedepan. Apakah masyarakat memang harus didorong agar menggunakan teknologi terbaru 4G atau tidak.

“Jika memang dirasa perlu, pemerintah dan pelaku usaha harus berupaya menciptakan kebutuhan sehingga masyarakat perlu menggunakan 4G. Saat ini, masih ada sekitar 50 persen pengguna gadget yang belum beralih ke 4G dan masih menggunakan layanan 2G untuk voice dan sms saja,” kata Nonot usai acara Obrolan Telko yang mengangkat tema ‘Memaksimalkan Utilitas 4G melalui Kerterjangkauan Perangkat’ di salah satu cafe di Kota Bandung, Selasa (19/9/2017).

Nonot menambahkan, setidaknya ada dua penyebab yang membuat masyarakat belum beralih ke layanan 4G. Pertama, karena supply layanan 4G yang penetrasinya masih kecil, baik dari sisi coverage maupun kepemilikan handset 4G pada pengguna karena willingness to buy atau daya beli dari mayoritas lapisan masyarakat yang masih kurang. Kedua, karena kebutuhan masyarakat  akan layanan 4G memang belum tumbuh.

“Dari dua penyebab tersebut, yang kedua masih lebih besar dari yang pertama. Kebutuhan masyarakat akan layanan 4G memang belum tumbuh. Kalau disimak lebih cermat, sebenarnya bagi pengguna, nilai tambah yang didapat dari 4G dibanding 3G adalah peningkatan kenyamanan dan kepuasan dari user experience atau biasa diistilahkan dengan ‘convenience and satisfaction’. Jangan-jangan orang Indonesia sebagian besar belum butuh itu (4G), yang penting bisa komunikasi verbal. Belum lagi ada yg merasa gaptek dan enggan untuk mencoba hal yang baru,” tuturnya.

Mantan Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia selama dua periode itu menilai, perangkat 4G dengan harga terjangkau sangat dibutuhkan untuk memuluskan rencana migrasi pengguna 2G ke 4G. Idealnya, range harga ponsel 4G agar bisa diterima pasar menengah bawah berkisar USD 250. Pasalnya, daya beli rata-rata pengguna 2G yang kebanyakan dari kelas menengah bawah hanya maksimal mampu membeli handset seharga USD 125.

“Bukan hal mustahil untuk mewujudkan ponsel 4G murah di Indonesia, karena saat ini pun beberapa vendor dan pabrikan ponsel telah mulai memproduksi ponsel 4G murah dengan kisaran harga Rp500 ribu. Saat ponsel 4G sudah menjadi sangat terjangkau, maka keengganan pengguna 2G bermigrasi ke 4G karena alasan handset yang mahal bisa teratasi,” tegasnya.

(Ageng/Yun)

There are no comments yet