Haornas ke-34 Harus Jadi Titik Tolak Kemajuan Olahraga Nasional‎

0
10
BANDUNG, FOKUSJabar.com : Momen Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-34 tahun 2017 harus menjadi titik tolak ‎untuk kemajuan olahraga secara nasional. Kegagalan Indonesia di ajang SEA Games 2017, harus menjadi bahan evaluasi bagi prestasi olahraga nasional di even internasional lainnya.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jabar, Yudha M Saputra mengatakan, gagalnya pencapaian target medali emas di SEA Games 2017 harus dievaluasi oleh semua pihak. Sudah saatnya semua persoalan yang ada dalam pembinaan keolahragaan di Indonesia dibedah dan ditemukan solusinya oleh semua stake holder dan pakar keolahragaan di Indonesia.

“Kita ketahui jika Indonesia sampai detik ini belum memiliki blue print atau cetak biru untuk pembinaan keolahragaan jangka panjang. Berbeda dengan negara lain yang sudah berjalan dan proses regenerasi atlet pun berjalan dengan tepat hingga penganggaran yang tepat. Kalau di Indonesia kan persoalannya sangat klasik, bisa jadi pembinaan di provinsi sudah dilakukan tapi ujung-ujungnya selalu di sisi anggaran,” ujar Yudha saat ditemui di komplek olahraga SPOrT Jabar, Jalan Pacuan Kuda, Arcamanik, Kota Bandung, Senin (11/9/2017).

Melalui momen Haornas, sudah saatnya semua pihak membedah semua persoalan yang terjadi. Setidaknya, pihak otoritas tertinggi keolahragaan di Indonesia yakni Kemenpora, bisa menggelar sebuah Kongres Olahraga Nasional untuk perbaikan pembinaan keolahragaan nasional. Mulai dari membedah semua hal melalui anggaran, kebijakan, hingga hal lainnya.

“Padahal dari sisi kebijakan terkait aturan keolahragaan, hanya Indonesia yang memilikinya dibanding negara lain di Asia Tenggara. Kita sudah memiliki UU No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional yang dijabarkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16, 17, dan 18. Bahkan di beberapa provinsi dan kota kabupaten pun sudah ada yang memiliki Perda Keolahragaan,” terangnya.

Hal ini menandakan, jika secara regulasi, Indonesia sudah cukup bagus dan memiliki aturan yang memayungi. Namun ‎semenjak ada aturan tersebut, prestasi olahraga nasional malah jadi menurun. Dan ‎berdasarkan penilainya pihaknya, dari sisi implementasi aturan itu yang belum berjalan baik‎ meski dari sisi aturan sudah cukup baik.
“Jadi ‎kegagalan Indonesia di SEA Games 2017 menjadi pembelajaran luar biasa dan ‎kita tidak bisa salahkan siapapun. ‎Jadikan pembelajaran kalau pembinaan olahraga di Indonesia secara umum memang belum lebih unggul dibanding negara lain di Asia Tenggara. Kalau melihat jumlah penduduk Indonesia yang lebih besar dibanding negara lain di Asia Tenggara, harusnya Indonesia selalu jadi juara umum di SEA Games‎ karena sumber daya atlet kita lebih banyak sehingga bisa menyeleksi atlet unggul lebih mudah,” tegasnya.
‎Hal tersebut, lanjut Yudha, menandakan jika ada pembinaan olahraga yang tidak tepat di Indonesia.‎ Kebijakan Kemenpora dengan sentralisasi dan satlak prima yang sudah dilakukan, dinilai belum berhasil dan ‎harus ada evaluasi.
“Waktu kita tinggal satu tahun kedepan sebelum pelaksanaan Asian Games 2018. Itu akan jadi pembuktian kalau pembinaan olahraga di Indoenesia ini udah tepat atau belum,” pungkasnya.
(ageng/bam’s)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here