Muslim Sunda Dari masa ke masa Sejarah Perkembangan Serta Pengaruhnya Dalam Kehidupan Bernegara

0
9

Taya deui tanah resmi lir pasundan

Nu gandang tur ginding

Pantes mun jadi bentangna

Bebenteng bantengna tanah jawi.

( Tiada lain selain tanah pasundan yang elok

dan pantas menjadi pesohor

serta menjadi Banteng bentengnya tanah Jawa )

 

Islami, FOKUSJabar.com : Kata “Sunda” bila diucapkan saat ini, bisa dipastikan akan merujuk pada sebuah komunitas besar yang mendiami Provinsi Jawa Barat dan Banten atau mungkin merujuk pada laut yang membelah antara pulau Sumatra dan pulau Jawa yang lebih dikenal dengan sebutan “Selat Sunda”. Pajajaran, Pasundan, Priangan atau Parahyang adalah nama lain yang lebih dulu dikenal sebelum menjadi Jawa Barat. Sebutan Priangan atau Parahyang yang berarti negeri Para Hyang/para dewa merupakan nama sanjungan sekaligus pengakuan buat etnis Sunda yang sangat religius, jauh sebelum peradaban Islam menyinari Tanah Sunda.

Secara tinjauan sejarah politik dan mitologi, Dikarenakan masyarakatnya menganut sistem monopolitik yang berbanding lurus dengan kebenaran mitologi yang dianut dan diyakini oleh mereka, Islam pada saat itu mudah diterima dan masuk sehingga mengakar kuat dalam kehidupan Suku Sunda. Pada Perkembangannya Islam di Tatar Sunda tak bisa dilepaskan dari pengaruh figur sentral “Prabu Siliwangi” beserta keturunanya yang merupakan penguasa tunggal Tatar Sunda pada masa itu.

Menilik cerita  lisan yang berkembang dimasyarakat hingga saat ini, tentang perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang ( santriwati Syeh Quro) yang melahirkan Raden Kian Santang atau sering pula disebut dengan nama Pangeran Santri atau Ki Samadulloh, hingga cerita pertemuan Raden Kian Santang dengan Sayyidina Ali,RA di kota Mekkah, walau secara fakta sejarah adalah hal yang sulit untuk dibuktikan karena perbedaan zaman yang cukup jauh, namun secara mitologi yangmana kebenaranya diyakini oleh masyarakat Sunda, hal ini adalah faktor penentu yang mempengaruhi diterimanya ajaran Islam oleh orang Sunda dan berkembang secara pesat.

Karakteristik masyarakat Sunda yang terbuka, egaliter dan praktis memuluskan proses akulturasi Islam dengan kebudayaan lokal yang telah ada sebelumnya. Sehingga pada tahap percampuran ini tidak menimbulkan shock culture yang menimbulkan konflik budaya seperti yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia.

Pada masa perjuangan fisik, kontribusi Muslim Sunda yang tergabung dalam barisan Hisbulloh, Sabilillah maupun organisasi lainya sangatlah berarti dalam perjalanan sejarah merebut kemerdekaan.

Peristiwa Bandung Lautan api adalah saksi sejarah yang tak terbantahkan atau prestasi pasukan Siliwangi yang berhasil menumpas berbagai pemberontakan seperti gerakan PKI 1948 di Madiun, RMS, Permesta dan DI/TII. Bahkan menjadikan Jawa Barat sebagai pusat pergerakan DI/TII yang dipimpin Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo (walau beliau bukan orang Sunda) hingga diikuti oleh berbagai daerah seperti Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Jawa Tengah bukanlah tanpa alasan.

Letak Geografis Jawa Barat yang strategis dan fanatisme beragama merupakan beberapa pertimbangan disamping kekalahan diplomasi kabinet Amir Syarifudin dengan Belanda pada perjanjian Renville tanggal 17 Januari 1948, yang salah satu keputusanya adalah Jawa Barat menjadi daerah pendudukan Belanda. Hal ini membuat ribuan tentara Siliwangi hijrah ke Yogyakarta dan terjadinya kekosongan kekuasaan/vacuum of power yang mendorong SM.Kartosuwiryo memproklamirkan berdirinya DI/TII pada tanggal 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya serta mendapatkan dukungan luas dari para ulama diawal berdirinya.

Namun pada fase kelam tersebut kegigihan dan pengorbanan KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin atau lebih dikenal dengan sebutan Abah Anom seorang ulama besar Tasikmalaya sekaligus mursyid Tareqat Qadariah Naqsabandiah yang turut membantu TNI dalam menanggulangi gangguan keamanan DI/TII, memberikan warna berbeda dalam konteks pemahaman keagamaan hubunganya dengan kehidupan kenegaraan. Hal ini bisa dilihat dari salah satu wejanganya yang berbunyi “ulah carekeun agama jeung nagara”(jangan melakukan hal yang dilarang agama dan Negara).

Secara personal pengaruh tokoh tokoh Muslim Sunda sejak jaman Otto Iskandar Dinata, Umar Wirahadilkusumah, Solihin GP hingga eranya Ginanjar Kartasasmita, Agun Gunanjar, Abdullah Gymnastiar, Dedi Mulyadi dan tokoh tokoh lainya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara banyak melahirkan kontribusi penting sesuai dengan peran dan kapasitasnya dalam pembangunan nasional.

Ungkapan Islam teh Sunda, Sunda teh Islam (Islam itu Sunda, Sunda itu Islam) adalah bentuk penegasan identitas karakter masyarakat Sunda hasil perkawinan Ajaran Islam dan budaya Sunda masa lalu, masa kini dan seterusnya menjadi latar berkepribadian, interaksi hubungan sosial, kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga tumbuh suatu ungkapan “Urang Sunda nu nyantri (Taat Beribadah), nyakola (berpendidikan) jeung nyunda (Lemah Lembut tetapi berkepribadian)” dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis : Mano.KH.

(Dirangkum dari berbagai sumber)

 

There are no comments yet