PABBSI Jabar Layangkan Surat Bantahan Keputusan Doping ke PB PON XIX

0
164
Foto By. Ageng
BANDUNG, FOKUSJabar.com : Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga (PABBSI) Jawa Barat membantah jika tiga orang atlet Binaraga mereka menggunakan zat doping saat tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016. Surat bantahan ditujukan ke Pengurus Besar (PB) PON XIX dan Peparnas XV tahun 2016 yang ditembuskan ke Kemenpora, KONI Pusat, KONI Jabar dan PB PABBSI.
Komisi Teknis Pengprov PABBSI Jabar, Heli Saptaji Wibowo mengatakan, pernyataan Ketua Umum PB PON XIX dan Peparnas XV sekaligus Gubernur Jawa Barat, AHmad Heryawan yang menyebutkan jika tiga atletnya tersebut positif menggunakan zat doping tidak tepat. Pasalnya, untuk menyatakan seorang atlet positif menggunakan doping dalam sebuah multieven olahraga harus melalui beberapa tahapan.
“Gubernur tidak bisa memutuskan si atlet positif menggunakan doping karena itu butuh beberapa proses. Kalau terindikasi, oke. Jadi kalau dinyatakan positif doping, jelas kami membantahnya dan surat bantahan sudah kami kirim ke PB PON XIX dan Peparnas XV,” ujar Heli saat ditemui di gedung KONI Jabar, Jalan Pajajaran Kota Bandung, Rabu (11/1/2017).
Untuk menyatakan atlet positif doping, lanjut Heli, harus menempuh beberapa tahapan. Diantaranya adanya sanggahan setelah dinyatakan terindikasi doping berdasarkan hasil tes urine, dilanjutkan dengan investigasi atau penyidikan terhadap yang terindikasi. Usai itu, bisa dilakukan pengetesan ulang dengan membuka sampel urine B dan jika masih bersengketa bisa ditengahi melalui BAORI.
“Negara ini kan negara hukum, jadi harus juga menggunakan asas praduga tak bersalah. Kalau setelah dilakukan investigasi dan tahapan lainnya, baru bisa diambil keputusan final. Jangan main memutuskan secara langsung tanpa melalui tahapan,” tambahnya.
Selain itu, pihaknya menyayangkan langkah yang dilakukan dengan mengumumkan langsung atlet yang terindikasi doping tersebut ke media massa. Seharusnya, pihak PB PON XIX dan Peparnas XV terlebih dahulu memberikan salinan hasil tes hingga surat pemberitahuan kepada pihak yang bersangkutan. Mulai dari atlet yang bersangkutan, cabang olahraga, serta kontingen asal atlet yang bersangkutan.
“Ini kami justru tahu dari media massa dan kami belum menerima surat pemberitahuan resmi dari PB PON XIX dan Peparnas XV. Sebagai gambaran, saat Porda di Kabupaten Bekasi pada tahun 2014, kita pun menerima dokumen hasil tes sebagai dasar. Tapi ini justru yang sekelas PON, kami tidak menerima salinan itu. Saya justru hanya dapat print out keputusan positif doping dari PB PON XIX dan Peparnas XV ini dari pesan WhatsApp yang diterima atlet yang bersangkutan. Ini membuat kami kecewa,” tegasnya.
(Ageng/Bam’s)

There are no comments yet