Bandung Banjir, Seniman Ekpresikan Kesedihan Lewat Lukisan

0
17

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Tokoh seniman Bandung Tisna Sanjaya ikut mengambil sikap dengan fenomena banjir  yang terjadi di Kota Bandung beberapa pekan terakhir.

Banjir parah menyebar di antaranya di Pasteur, Pagarsih, Sukajadi dan Gedebage.

Musibah banjir tersebut dinilai telah menebar kesedihan di kalangan seniman.

Kang Tisna (panggilan untuk Tisna Sanjaya) pun membuat karya seni lukis peradaban Bandung sebagai ekspresi kesedihannya.

Karya tersebut, terbentuk melalui guratan tanah yang terhampar dalam papan berukuran besar di Sungai Cikapundung kawasan Gedung Merdeka, Bandung.

Dua papan besar dideret dalam satu jajar di tengah air yang mengalir dari hulu. Dengan media tanah berbeda, Tisna melukis dengan penuh rasa.

Usai mengenakan tangannya ke arah papan besar, Tisna kemudian menumpahkan air tanah yang ditampung dalam dua wadah berbeda ke arah media lukis sambil menginternalisasi makna ekpresi tersebut.

Tisna mengungkapkan, tanah yang digunakan dalam lukisan tersebut diambil dari tanah air Cigondewah dan Cikapundung.

“Dua tanah ini merupakan tanah yang menghasilkan sumber air,” kata Tisna, Sabtu (29/10/2016).

Adapun makna dari lukisan yang dibuat, Tisna mengatakan. Bahwa itu cerminan buni dalam kondisi dewasa yang tereksploitasi keserakahan manusia sehingga menimbulkan bencana alam.

Menurutnya kerusakan Bandung sama halnya seperti tereksploitasi akibat keserahan manusia.

“Kita lihat daerah utara. Punclut yang seharusnya sebagai tempat pohon dan resapan air serta filter udara, kini malah didirikan bangunan, hotel, resort dan berbagai hal. Kalau sudah begitu, air masuk ke kota langsung,” kata dia.

Menurut dia, Bandung saat ini dalam keadaan kritis, yang mana lahan penghijauannya hanya 8 persen dari angka ideal minimal 38 persen.

“Tentu saya sedih dengan keadaan lingkungan kita ini. Air yang melimpah, segala ada di Bandung tapi justru musibah menimpa,” tuturnya.

Dia menegaskan bahwa musibah banjir yang terjadi harus menjadi rerleksi pemerintah dan masyarakat.

“Sebab kita nggak amanah dikasih kekayaan, sumber mata air dan segala macamnya. Kita malah merusaknya. Seharusnya kekayaan ini menjadi anugerah, bukan malah jadi bencana. Pasteur, Pagarsih kakeueum (tergenang), ini adalah teguran,” tegas dia.

(Adi/LIN)

There are no comments yet