Penderita Kanker dan Cuci Darah Perlu Perlindungan dan Asuransi Pemerintah

0
68
Dedi Mulyadi

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai, permerintah perlu melindungi dan memberikan asuransi kesehatan khusus untuk masyarakat penderita kanker dan cuci darah. Apalagi para penderita penyakit itu cenderung mengalami kemerosotan ekonomi.

“Saya kira penderita kanker tumor dan stroke tekanan darah tinggi dengan cuci darah itu harus diberi perlindungan spesial oleh negara. Diberi asuransi khusus, jangan samakan dengan BPJS. Ini harus spesifikasi, dan berikutnya dijamin keluarganya, karena itu ambruk ekonomi. Terutama yang cuci darah karena sel darah putin yang jadi perhatian, ini yang jadi problem di indonesia selama ini,” jelas Dedi Mulyadi di sela peresmian Gedung baru RS Khusus Ginjal Ny.RA Habiebie di Jalan Tubagus Ismail Bandung, Senin (8/8/2016).

Menurut dia, hal itu perlu dilakukan agar menjadi terobosan baru oleh pemerintah, sehingga bisa membantu masyarakat. Pihaknya sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan Mantan Presiden RI BJ Habiebie yang membuat RS khusus ginjal.   Lebih lanjut Dedi mengaku terinspirasi rumah sakit tersebut karena sering mengantar pasien untuk berobat.

“Setelah itu saya konsultasi dan akhirnya membuat rumah sakit di Purwakarta dan mengobati pasien dengan gratis bagi masyarakat Purwakarta. Saya terinspirasi dari sini, bahkan dokter dokter di sini sering mengajar dokter di Purwakarta. Itu Rumah Sakit Bayu Asih, tapi dibikin kelas khusus untuk penderita gagal ginjal, dan kita jemput dari rumahnya, cuci darah diantar lagi jemput lagi,” jelas Dedi.

RS Bayu Asih di Purwakarta sudah berjalan selama 2 tahun dan sangat membantu masyarakat Purwakarta. Apalagi masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan dengan gratis. Bukan hanya cuci darah, tapi semua penyakit termasuk jantung itu gratis.

“Kita tidak ikut bpjs, kita ada jaminan pelayanan kesehatan masyarakat purwakarta istimewa, jadi itu disiapkan pemerintah dan no limit, asal memang diperlukan itu kita bantu, dan masyarakat yang mengakses layanan kesehatan di sana bisa naik kelas, kalau penuh kelas 3, naik ke kelas 2 dan kelas 1 kalau penuh juga bisa vip. ini nggak pakai syarat, karena data entri masyarakat Purwakarta sudah ada di sana. Tapi khusus untuk masyarakat Purwakarta,” jelas Dedi.

Menurut dia, konsep pelayanan gratis bisa diterapkan di pemerintah daerah lainnya, sehingga bisa membantu masyarakat, khususnya yang mengalami keterbatasan ekonomi. Dengan kata lain, asal punya kemauan sungguh-sungguh dalam mengelola anggaran itu bisa.

“Masalahnya tidak semua daerah punya kemauan, dari pada anggaran jadi silpa?” katanya.

Pemerintah daerah bisa merealisasikan pendirian RS khusus gratis, terlebih anggaranya pun masih terjangkau, sepertihalnya di Purwakarta anggaran untuk RS Bayu Asih mencapai hingga Rp50 milyar. Itu diluar bpjs, setiap daerah pasti mampu.

“Saya ketemu Bupati Bekasi dan mau memasukan itu di perubahan tahun ini Rp15 milyar, tahun depan RP150 milyar tapi masih muter-muter ketakutan diperiksa BPK, takut ini dan itu. Padahal lakukan saja kan untuk kebutuhan publik,” terang dia.

Sementara itu BJ Habiebie pendiri RS Khusus Ginjal mengatakan, RS khusus Ginjal memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terlebih penderita penyakit ginjal sangat banyak. Dia berharap bisa membantu masyarakat Indonesia dari sisi kesehatannya.  Dengan begitu, mereka bisa bekerja produktif, menjadi unggil dan bisa menyumbangkan karya nyata untuk pembangunan bangsa.

“Jangan serahkan semuanya kepada pemerintah, kita masyarakat lebih kuat bisa bekerjasama saling membantu,” tutur dia.

(LIN)

There are no comments yet