Jangan Hanya Mimpi, Kita Jauh Tertinggal..!!

0
96

BENCANA banjir di berbagai daerah di Indonesia, menjadi rutinitas yang datang setiap musim hujan. Bahkan di perkotaan datangnya bukan hanya musiman, tetapi apabila intensitas hujan tinggi maka dipastikan kita akan terendam dan terkepung air hingga berhari-hari. Mengapa fenomena ini bisa terjadi?

Para ahli meyakini bencana ini bisa terjadi karena system drainase yang buruk, berkurangnya daerah resapan air,  serta rendahnya kesadaran masyarakat memperlakukan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan.

Sementara itu para pengembang perumahan dan gedung bertingkat hanya mementingkan lingkungannya sendiri dengan meninggikan tanah di wilayah mereka. Akibatnya, meski wilayah perumahan dan gedung mereka terbebas dari banjir, namun akibat lingkungan sekitarnya tetap tergenang banjir, maka akses jalan menuju dan dari wilayah mereka terputus hingga akhirnya terkepung banjir.

***

Pada Tahun 1998 saya mewakili jurnalis media lokal di Kalimantan Barat bersama dua jurnalis media nasional diberi kesempatan berkujung ke Ibu kota Negara Bagian Malaysia Timur menyertai rombongan Pemerintah Daerah dan Anggota DPRD Kalimantan Barat yang sedang mengadakan study banding mengenai penanganan tata kelola air, sampah dan limbah.

Lalu apa hasil dari hasil study banding tersebut? Kami hanya takjub melihat kondisi di sana kenyataan yang ada.

Jalan-jalannya mulus dan lebar. Saluran drainasenya dibangun permanen dan penuh perencanaan. Air mengalir dengan lancar baik di semua saluran/selokan dan tidak berbau. Begitu halnya sungai yang membentang di Kota Khuching Sarawak, airnya jernih, bebas dari limbah dan sampah.

Bagitu pula pengelolaan sampah di negara tersebut sangat baik, bersih dan nyaman. Kesadaran masyarakat pada kebersihan lingkungan sangat tinggi.

Selain itu, penerapan sanksi bagi mereka yang melanggar sangat jelas, tegas dan dijalankan sesuai aturan.

Mengapa bisa demikian?

Rupanya Pemerintah Malaysia menerapkan aturan tegas bagi pengembang perumahan yang akan melakukan pembangunan. Hal pertama yang harus dibangun para pengembang adalah akses jalan, saluran drainase yang baik, serta tempat pengolahan sampah dan limbah.

Jika ketiga hal tersebut dinilai bagus dan siap oleh pemerintah, baru perusahaan pengembang boleh mulai melakukan pembangunan rumah dan gedung.

Untuk akses jalan ada aturan ketat di negara tersebut, mengenai lebar dan kualitas jalan. Ini sudah mengacu pada perkembangan masa mendatang. Artinya, lebar jalan tersebut sangat memadai (sekitar 14 meter) dan tidak akan ada lagi istilah pelebaran jalan.

Bandingkan dengan pembangunan jalan di negara kita yang tidak memperhitungkan perkembangan penduduk dengan segala kebutuhannya. Pelebaran jalan sudah menjadi peristiwa biasa yang terkadang menimbulkan konflik di masyarakat ketika lahan masyarakat yang berada di pinggir jalan (yang sempit tersebut) harus dibebaskan.

Begitu pun tentang system drainase dan pengelolaan sampah serta limbah di negara Malaysia sangat baik. Saluran air di sepanjang jalan telah diperhitungkan dengan baik, baik kemiringan dan resapanya. Saluran air sangat lancar dan dibangun permanen. Diatasnya ditutup dengan jeruji dari baja untuk keamanannya dan dijamin tidak berbau. Hal ini dimungkinkan karena air dan limbah yang mengalir dari pemukiman penduduk menuju saluran air utama sudah diolah terlebih dahulu melalui alat yang disediakan pengembang di setiap komplek perumahan.

***

Kondisi  yang saya ceritakan tersebut terjadi tahun 1998, atau delapan belas tahun silam. Miris..! Saat ini di negara kita kondisi tersebut masih berupa mimpi dan menjadi angan-angan yang entah kapan bisa terwujud.

Sudah seharusnya kita segera bangun dari mimipi dan segera mewujudkanya. Sungguh kita sudah tertinggal…!! Namun kita harus tetap maju bergerak.  Minimal jangan tertinggal semakin jauh.

(Penulis adalah Jurnalis FOKUSJabar.com tinggal di Pangandaran)

There are no comments yet